Pengobatan Sesat Gorontalo
Rumah Dukun Sesat di Ilotidea Gorontalo Digerebek Massa, Pelaku Nyaris Diarak Telanjang
Seorang perempuan paruh baya inisial YM yang diduga menjalankan praktik pengobatan menyimpang nyaris diarak warga Desa Ilotidea, Kabupaten Gorontalo,
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2025-04-17_MUSYAWARAH-Aparat-desa-bersama-kepolisian-dan-TNI.jpg)
Dalam penggerebekan itu, warga juga mendapati seorang pasien bersama dua anaknya masih menetap di rumah pelaku, meski pelaku sendiri sudah diamankan aparat.
Pasien tersebut diketahui berasal dari Kelurahan Dungingi, Kota Gorontalo.
“Orang kota tinggal di Palma, tapi datang berobat ke sini,” kata salah satu warga.
Warga kemudian meminta pasien dan dua anaknya untuk segera meninggalkan rumah tersebut.
Mereka pergi menggunakan sepeda motor, namun tetap dibuntuti oleh sejumlah warga untuk memastikan mereka benar-benar kembali ke kota dan tidak lagi datang ke lokasi.
Polisi dan KUA Turun Tangan
Kasubsektor Tilango, Ipda Erfin, mengonfirmasi bahwa pihaknya sudah menerima laporan sejak awal pekan ini.
Ia langsung memerintahkan anggotanya turun ke lokasi dan memanggil pelaku ke kantor untuk dimintai keterangan.
Karena situasi cukup memanas, kasus ini dilimpahkan ke Polsek Telaga untuk penanganan lebih lanjut.
“Sudah jadi atensi kami karena ini melibatkan anak-anak. Kami langsung bawa pelaku ke kantor agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tilango, yang turut hadir saat musyawarah, juga menyatakan keprihatinannya. Ia meminta agar ada pengawasan intensif terhadap praktik-praktik serupa dan perlunya edukasi masyarakat agar tidak mudah percaya pada pengobatan tak masuk akal.
Ferdi dan Rustin Singgili, pasangan suami istri yang tinggal tak jauh dari rumah pelaku, mengaku anak-anak mereka bahkan takut melewati jalan tersebut sepulang sekolah.
“Mereka lari setiap lewat depan rumah itu. Katanya sering dipanggil-panggil juga sama pelaku,” kata Ferdi.
Jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama bagi anak-anak menuju dan pulang dari sekolah.
Jika harus memutar, risikonya justru lebih tinggi karena rawan kecelakaan.
“Anak saya bilang rumah itu angker,” tambah Rustin.
Kini warga sepakat akan terus memantau rumah pelaku agar tidak kembali digunakan untuk praktik serupa.
Mereka juga berharap aparat dan pemerintah desa memberikan perhatian khusus terhadap kejadian ini, agar tidak terulang lagi. (*)