Pengobatan Sesat Gorontalo
Rumah Dukun Sesat di Ilotidea Gorontalo Digerebek Massa, Pelaku Nyaris Diarak Telanjang
Seorang perempuan paruh baya inisial YM yang diduga menjalankan praktik pengobatan menyimpang nyaris diarak warga Desa Ilotidea, Kabupaten Gorontalo,
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2025-04-17_MUSYAWARAH-Aparat-desa-bersama-kepolisian-dan-TNI.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Seorang perempuan paruh baya inisial YM yang diduga menjalankan praktik pengobatan menyimpang nyaris diarak warga Desa Ilotidea, Kabupaten Gorontalo, Kamis (17/4/2025).
Puluhan warga menggerebek rumah seorang perempuan paruh baya yang diduga menjalankan praktik pengobatan menyimpang.
Warga menyebutnya sebagai "dukun sesat" karena metode pengobatannya dianggap tak lazim dan meresahkan.
Penggerebekan dipicu oleh kemarahan warga setelah terungkap adanya dugaan ritual aneh yang melibatkan anak-anak.
Praktik tersebut dilaporkan sudah berlangsung cukup lama dan menggunakan metode ganjil.
Ia menggunduli kepala anak-anak, memandikan mereka dengan air rendaman cabai, dan ritual malam hari yang belum diketahui tujuannya.
“Anak-anak yang bukan sakit justru dijadikan media pengobatan. Ada yang digunduli, lalu pagi-pagi dimandikan air cabe,” ungkap Roberto Gustam Bobihoe, Kepala Desa Ilotidea, yang langsung turun ke lokasi bersama aparat desa dan kepolisian.
Kemarahan warga sempat memuncak saat pelaku mengakui di hadapan aparat dan warga bahwa ia memang sudah lama menjalankan pengobatan tersebut.
Sejumlah warga yang emosi bahkan meneriakkan agar pelaku diarak keliling kampung dalam keadaan telanjang sebagai bentuk hukuman sosial.
“Untung aparat cepat sigap. Kalau tidak, mungkin pelaku sudah diamuk massa,” ujar seorang warga yang hadir di lokasi.
Pelaku, yang dikenal sebagai tukang pijat tradisional, selama ini dianggap warga biasa saja.
Namun belakangan terungkap bahwa ia diduga melakukan pengobatan dengan metode yang dianggap menyimpang dan tidak sesuai norma.
Selain menggerebek rumah, warga juga mendatangi lokasi pemandian di samping rumah pelaku.
Di sana ditemukan loyang berisi air, bunga, serta sisa-sisa biji cabai, yang diduga digunakan dalam ritual mandi anak-anak.
Pasien Asal Kota Gorontalo Ikut Diusir
Dalam penggerebekan itu, warga juga mendapati seorang pasien bersama dua anaknya masih menetap di rumah pelaku, meski pelaku sendiri sudah diamankan aparat.
Pasien tersebut diketahui berasal dari Kelurahan Dungingi, Kota Gorontalo.
“Orang kota tinggal di Palma, tapi datang berobat ke sini,” kata salah satu warga.
Warga kemudian meminta pasien dan dua anaknya untuk segera meninggalkan rumah tersebut.
Mereka pergi menggunakan sepeda motor, namun tetap dibuntuti oleh sejumlah warga untuk memastikan mereka benar-benar kembali ke kota dan tidak lagi datang ke lokasi.
Polisi dan KUA Turun Tangan
Kasubsektor Tilango, Ipda Erfin, mengonfirmasi bahwa pihaknya sudah menerima laporan sejak awal pekan ini.
Ia langsung memerintahkan anggotanya turun ke lokasi dan memanggil pelaku ke kantor untuk dimintai keterangan.
Karena situasi cukup memanas, kasus ini dilimpahkan ke Polsek Telaga untuk penanganan lebih lanjut.
“Sudah jadi atensi kami karena ini melibatkan anak-anak. Kami langsung bawa pelaku ke kantor agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tilango, yang turut hadir saat musyawarah, juga menyatakan keprihatinannya. Ia meminta agar ada pengawasan intensif terhadap praktik-praktik serupa dan perlunya edukasi masyarakat agar tidak mudah percaya pada pengobatan tak masuk akal.
Ferdi dan Rustin Singgili, pasangan suami istri yang tinggal tak jauh dari rumah pelaku, mengaku anak-anak mereka bahkan takut melewati jalan tersebut sepulang sekolah.
“Mereka lari setiap lewat depan rumah itu. Katanya sering dipanggil-panggil juga sama pelaku,” kata Ferdi.
Jalur tersebut merupakan satu-satunya akses utama bagi anak-anak menuju dan pulang dari sekolah.
Jika harus memutar, risikonya justru lebih tinggi karena rawan kecelakaan.
“Anak saya bilang rumah itu angker,” tambah Rustin.
Kini warga sepakat akan terus memantau rumah pelaku agar tidak kembali digunakan untuk praktik serupa.
Mereka juga berharap aparat dan pemerintah desa memberikan perhatian khusus terhadap kejadian ini, agar tidak terulang lagi. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.