Breaking News
Minggu, 8 Maret 2026

Gempa Myanmar

Korban Gempa Myanmar Tembus 1.000 Jiwa, Upaya Pencarian Terus Dilakukan

Korban-korban teridentifikasi setelah tim penyelamat menemukan lebih banyak jenazah di antara reruntuhan bangunan yang ambruk.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Korban Gempa Myanmar Tembus 1.000 Jiwa, Upaya Pencarian Terus Dilakukan
Reuters
TIM PENYELAMAT -- Gempa Myanmar menyisakan reruntuhan dan korban yang kini menyentuh angka 1.000. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar melonjak hingga lebih dari 1.000 orang pada Sabtu (29/3/2024.

Korban-korban teridentifikasi setelah tim penyelamat menemukan lebih banyak jenazah di antara reruntuhan bangunan yang ambruk.

Gempa ini menghantam wilayah dekat kota terbesar kedua di Myanmar dan menyebabkan kehancuran luas.

Baca juga: Lonjakan Penumpang di Rute Gorontalo-Luwuk Capai 500 Orang, Pelabuhan Gorontalo Tambah Kapasitas

Menurut pernyataan resmi pemerintah militer Myanmar, jumlah korban tewas kini mencapai 1.002 orang, sementara 2.376 lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, 30 orang masih dinyatakan hilang. Pemerintah juga memperingatkan bahwa jumlah korban bisa terus bertambah karena proses pendataan masih berlangsung.

Situasi Makin Sulit di Tengah Konflik Berkepanjangan

Myanmar tengah menghadapi konflik sipil yang berkepanjangan, memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada.

Ketidakstabilan ini membuat upaya bantuan semakin sulit, karena akses ke wilayah terdampak terbatas dan berbahaya.

Baca juga: Warga Ntobo Kota Bima Rayakan Idul Fitri Lebih Awal, Ikuti Arahan Tuan Guru

Para ahli khawatir jumlah korban masih akan terus meningkat seiring dengan tantangan yang dihadapi tim penyelamat.

Gempa terjadi pada Jumat siang dengan pusat gempa tak jauh dari Mandalay, diikuti oleh serangkaian gempa susulan, termasuk satu yang berkekuatan 6,4 magnitudo.

Guncangan kuat tersebut merobohkan bangunan, merusak jalan, menghancurkan jembatan, dan bahkan menyebabkan jebolnya sebuah bendungan.

Dampak Meluas hingga Thailand

Dampak gempa tak hanya dirasakan di Myanmar, tetapi juga mengguncang Thailand, termasuk wilayah metropolitan Bangkok yang dihuni sekitar 17 juta orang.

Banyak warga di gedung-gedung tinggi merasakan guncangan hebat.

Otoritas Bangkok melaporkan enam orang tewas, 26 lainnya terluka, dan 47 orang masih dinyatakan hilang, sebagian besar berasal dari lokasi proyek konstruksi di dekat pasar Chatuchak yang populer.

Baca juga: 9.635 Pemudik Tinggalkan Gorontalo, Arus Mudik Lebaran 2025 Lancar

Saat gempa terjadi, sebuah gedung pencakar langit setinggi 33 lantai yang sedang dibangun oleh perusahaan asal Tiongkok untuk pemerintah Thailand runtuh dalam hitungan detik, menciptakan awan debu raksasa dan kepanikan massal.

Tim penyelamat terus bekerja keras menggunakan alat berat untuk mencari korban, meski harapan menemukan mereka dalam keadaan selamat semakin menipis.

Doa dan Harapan Keluarga Korban

Naruemol Thonglek, seorang wanita berusia 45 tahun, menangis saat menunggu kabar dari pasangannya yang berasal dari Myanmar, bersama lima temannya yang bekerja di proyek tersebut.

"Saya berdoa mereka selamat, tapi saat melihat reruntuhan ini, saya bertanya-tanya di mana mereka? Apakah mereka masih hidup?" katanya sambil terisak.

Waenphet Panta juga masih menanti kabar putrinya, Kanlayanee, yang terakhir kali menelepon satu jam sebelum gempa terjadi.

"Saya hanya bisa berdoa semoga dia selamat dan sudah berada di rumah sakit," katanya.

Bantuan Internasional Mulai Berdatangan

Pemerintah Myanmar mengakui kebutuhan mendesak akan pasokan darah di daerah yang paling terdampak.

Baca juga: Ayah Tega Habisi Nyawa Anak Kandung, Motifnya Bikin Geram!

Meskipun Myanmar sebelumnya kerap enggan menerima bantuan asing, kali ini Min Aung Hlaing menyatakan kesiapan negaranya untuk menerima dukungan dari luar.

Bantuan pun mulai berdatangan. Tim penyelamat dari provinsi Yunnan, Tiongkok, tiba di Yangon pada Sabtu pagi dengan membawa peralatan pendeteksi gempa, drone, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Sementara itu, Rusia mengirimkan dua pesawat yang membawa 120 personel penyelamat serta bantuan logistik.

India juga mengirim tim pencarian dan penyelamatan serta tenaga medis, sedangkan Malaysia akan mengirimkan 50 relawan pada Minggu untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan di wilayah terdampak.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengalokasikan dana darurat sebesar 5 juta dolar AS untuk memulai upaya bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu menyatakan bahwa Amerika Serikat akan turut membantu.

Namun, beberapa pihak skeptis terhadap efektivitas bantuan ini, mengingat kebijakan pemotongan anggaran bantuan luar negeri yang diterapkan selama masa kepemimpinannya telah berdampak pada berkurangnya program kemanusiaan di Myanmar.

Dengan kondisi yang masih sulit dan jumlah korban yang terus bertambah, upaya penyelamatan dan bantuan kemanusiaan kini menjadi prioritas utama bagi Myanmar dan komunitas internasional.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved