Banjir Talumolo Gorontalo
Pengerukan Material di Saluran Drainase Talumolo Gorontalo Dimulai, Warga Berharap Rutin Dilakukan
Saluran drainase dengan kedalaman sekitar 2,5 meter itu sebelumnya hampir seluruhnya tertimbun material bawaan banjir, seperti sampah, pasir, batang k
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PENGERUKAN-MATERIAL-BANJIR-Sebuah-ekskavator-melakukan-pengerukan-endapan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Material yang mengendap di saluran drainase Kelurahan Talumolo, Kota Gorontalo, mulai dikeruk setelah lama tertimbun akibat banjir bandang.
Pengerukan ini dilakukan menggunakan dua alat ekskavator yang bekerja di sisi hulu dan hilir saluran.
Saluran drainase dengan kedalaman sekitar 2,5 meter itu sebelumnya hampir seluruhnya tertimbun material bawaan banjir, seperti sampah, pasir, batang kayu, hingga pohon pisang.
Kini, satu per satu material tersebut mulai diangkut oleh ekskavator dalam upaya mengembalikan fungsi drainase.
Baca juga: Rayakan Ulang Tahun ke-3, Ini Harapan Masyarakat Gorontalo untuk TribunGorontalo.com
Pengerukan Dimulai Sejak Pagi
Ketua RT 01 RW 03, Iru Darise, mengungkapkan bahwa pengerukan ini telah dimulai sejak pagi hari.
"Ini sudah dikeruk mulai tadi pagi sekitar pukul 07.30 Wita," ucapnya.
Ia menyampaikan bahwa saluran drainase tersebut sudah cukup lama tidak mengalami pengerukan.
Menurutnya, jika diingat-ingat, terakhir kali pengerukan dilakukan sekitar satu tahun lalu.
"Terakhir itu tahun lalu ada pengerukan, padahal kita sudah sering melapor, tapi tidak ada tindak lanjut. Baru setelah banjir ini, alhamdulillah, akhirnya dikeruk juga," ungkapnya.
Iru menekankan bahwa pengerukan seharusnya dilakukan segera setiap kali saluran drainase tertimbun material banjir, bukan menunggu hingga kondisi semakin parah.
Baca juga: Dua Ekskavator Dikerahkan, Warga Talumolo Gorontalo Bernafas Lega Setelah Banjir Bandang
"Setiap kali tertimbun, harus segera dilakukan pengerukan. Kalau dibiarkan, endapan material akan terus menumpuk, dan akhirnya drainase tidak bisa berfungsi," tegasnya.
Akibat pengerukan yang jarang dilakukan, kini drainase dengan kedalaman 2,5 meter tersebut hampir seluruhnya tertutup material.
Iru pun berharap pengerukan ini bisa dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika kondisi sudah kritis.
"Kalau ini dibiarkan terus, kami yang akan jadi korban. Kami berharap pengerukan dilakukan secara berkala agar saluran tetap berfungsi dan tidak menyebabkan banjir," katanya.