Tumbilotohe Gorontalo
Dispar Gorontalo Pusatkan Festival Green Tumbilotohe 2025 di Siendeng, Gunakan Tohe Tutu
Festival ini mengusung tema "Kreativitas Berbasis Tradisi, Mendukung Pariwisata Berkelanjutan" sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempe
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TUMBILOTOHE-GORONTALO-Abdul-Wahab-Thomas-Dosen-Komunikasi-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
Dengan berbagai sajian tersebut, festival ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat lokal tetapi juga daya tarik bagi wisatawan mancanegara.
Aryanto berharap Festival Green Tumbilotohe dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan, baik oleh masyarakat Gorontalo maupun para perantau yang ingin bernostalgia dengan suasana khas menjelang Idulfitri.
“Jika festival ini bisa memenuhi kriteria sustainable tourism dan green event, maka saya yakin akan semakin menarik perhatian wisatawan mancanegara yang ingin merasakan keunikan budaya lokal dalam kemasan yang lebih ramah lingkungan,” tutupnya.
Apa itu Tumbilotohe?
Tumbilotohe merupakan tradisi turun-temurun di Provinsi Gorontalo.
Tradisi ini merupakan sebuah peristiwa di mana masyarakat Gorontalo menyalakan lampu pada hari ke-27 ramadan.
Kata Tumbilotohe diambil dari dua suku kata dalam bahasa Gorontalo yakni Tumbilo berarti menyalakan, dan Tohe berarti lampu.
Abdul Wahab Thomas, Dosen Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), mengatakan dalam tumbilotohe bermakna religiusitas, nilai kemanusiaan, penghormatan, penghambaan, doa, dan pengharapan.
Juga menyalakan lampu terdapat pengucapan doa-doa oleh masyarakat.
Tumbilotohe ini disebut merupakan jalur penghubung antara para pendahulu yang telah tiada dengan orang yang berada di masa kini.
Sehingga jika Tumbilotohe mulai menggunakan lampu tumblr bukanlah sebuah masalah.
"Kita tidak bisa mengerdilkan nilai, karena pergeseran ke lampu tumblr juga mengikuti kecerdasan etnis yang semakin maju," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (28/3/2024).
Pendapat serupa dilontarkan Tony Iskandar Mondong. Sejarawan UNG itu mengatakan tumbilotohe dahulu menggunakan obor.
"Namun semakin ke sini pakai lampu dari minuman energi, sekarang sudah mulai geser ke lampu tumblr," kata Tony.
Terpenting, kata dia, perayaan Tumbilotohe di Gorontalo terus dilestarikan.
Sebab pada zaman dahulu, Tumbilotohe hanya terdapat beberapa lampu saja.
Satu tradisi lain yang melekat dengan nuansa Ramadan adalah alikusu, yakni sebuah tugu yang berada di depan bangunan.
Alikusu sendiri terbuat dari bambu kuning yang fungsinya tempat meletakkan lampu Tumbilotohe. (*)