Tumbilotohe Gorontalo
Dispar Gorontalo Pusatkan Festival Green Tumbilotohe 2025 di Siendeng, Gunakan Tohe Tutu
Festival ini mengusung tema "Kreativitas Berbasis Tradisi, Mendukung Pariwisata Berkelanjutan" sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempe
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TUMBILOTOHE-GORONTALO-Abdul-Wahab-Thomas-Dosen-Komunikasi-Universitas-Negeri-Gorontalo-UNG.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Gorontalo melalui Dinas Pariwisata kembali menggelar Festival Green Tumbilotohe 2025.
Festival ini mengusung tema "Kreativitas Berbasis Tradisi, Mendukung Pariwisata Berkelanjutan" sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus memperkenalkan konsep pariwisata ramah lingkungan.
Festival yang berlangsung pada 26-28 Maret 2025 di Kelurahan Siendeng, Kota Gorontalo ini digelar secara kolaboratif bersama kabupaten dan kota di Gorontalo.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, menegaskan bahwa Tumbilotohe, sebagai tradisi penerangan lampu menjelang Idulfitri, memiliki daya tarik besar bagi wisatawan.
“Apalagi jika dikemas dengan baik dan menarik. Wisatawan saat ini tidak hanya mencari keunikan lokal, tetapi juga event yang mengadaptasi isu-isu global seperti perubahan iklim,” ujar Aryanto.
Festival Green Tumbilotohe tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim melalui konsep green event.
Aryanto menjelaskan bahwa kegiatan ini mendukung peta jalan dekarbonisasi sektor pariwisata dan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Tumbilotohe memang unik dan menarik, namun kita tidak bisa menutup mata terhadap dampak lingkungannya, seperti emisi karbon dari bahan bakar minyak tanah, limbah plastik, dan penggunaan listrik yang berlebihan,” ungkapnya.
Sebagai langkah konkret, Pemprov Gorontalo mengimbau agar festival ini menggunakan bahan bakar ramah lingkungan dan memperhatikan tata cara pemasangan lampu yang lebih berkelanjutan.
Festival Green Tumbilotohe akan menampilkan lampu botol tradisional khas Gorontalo seperti Tohe Tutu, Padamala, Tonggoloopo, dan Alikusu, yang telah menjadi bagian dari kearifan lokal turun-temurun.
Selain itu, bahan-bahan yang digunakan dalam festival ini juga lebih ramah lingkungan, seperti pemanfaatan minyak kelapa sebagai bahan bakar alternatif yang tidak menghasilkan emisi karbon serta penggunaan material yang dapat didaur ulang.
Festival Sarat Nostalgia dan Hiburan Tradisional
Tidak hanya menawarkan keindahan cahaya tradisional, pengunjung juga dapat menikmati berbagai jajanan khas Ramadan yang menggugah selera.
Festival ini juga menghadirkan suasana nostalgia Ramadan tempo dulu dengan permainan tradisional seperti Tengge-Tengge, Bunggo, dan Lompat Tali yang dipadukan dengan dekorasi khas Alanggaya.
Atraksi budaya pun akan turut menyemarakkan acara, termasuk pertunjukan Gambusi, Tari Dana-Dana Dasar, dan Perkusi yang menghadirkan nuansa khas Gorontalo.
Dengan berbagai sajian tersebut, festival ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat lokal tetapi juga daya tarik bagi wisatawan mancanegara.
Aryanto berharap Festival Green Tumbilotohe dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan yang dinanti-nantikan, baik oleh masyarakat Gorontalo maupun para perantau yang ingin bernostalgia dengan suasana khas menjelang Idulfitri.
“Jika festival ini bisa memenuhi kriteria sustainable tourism dan green event, maka saya yakin akan semakin menarik perhatian wisatawan mancanegara yang ingin merasakan keunikan budaya lokal dalam kemasan yang lebih ramah lingkungan,” tutupnya.
Apa itu Tumbilotohe?
Tumbilotohe merupakan tradisi turun-temurun di Provinsi Gorontalo.
Tradisi ini merupakan sebuah peristiwa di mana masyarakat Gorontalo menyalakan lampu pada hari ke-27 ramadan.
Kata Tumbilotohe diambil dari dua suku kata dalam bahasa Gorontalo yakni Tumbilo berarti menyalakan, dan Tohe berarti lampu.
Abdul Wahab Thomas, Dosen Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), mengatakan dalam tumbilotohe bermakna religiusitas, nilai kemanusiaan, penghormatan, penghambaan, doa, dan pengharapan.
Juga menyalakan lampu terdapat pengucapan doa-doa oleh masyarakat.
Tumbilotohe ini disebut merupakan jalur penghubung antara para pendahulu yang telah tiada dengan orang yang berada di masa kini.
Sehingga jika Tumbilotohe mulai menggunakan lampu tumblr bukanlah sebuah masalah.
"Kita tidak bisa mengerdilkan nilai, karena pergeseran ke lampu tumblr juga mengikuti kecerdasan etnis yang semakin maju," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Kamis (28/3/2024).
Pendapat serupa dilontarkan Tony Iskandar Mondong. Sejarawan UNG itu mengatakan tumbilotohe dahulu menggunakan obor.
"Namun semakin ke sini pakai lampu dari minuman energi, sekarang sudah mulai geser ke lampu tumblr," kata Tony.
Terpenting, kata dia, perayaan Tumbilotohe di Gorontalo terus dilestarikan.
Sebab pada zaman dahulu, Tumbilotohe hanya terdapat beberapa lampu saja.
Satu tradisi lain yang melekat dengan nuansa Ramadan adalah alikusu, yakni sebuah tugu yang berada di depan bangunan.
Alikusu sendiri terbuat dari bambu kuning yang fungsinya tempat meletakkan lampu Tumbilotohe. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.