Senin, 4 Mei 2026

TribunHIS

Parman Halim, Perantau Makassar yang Meniti Harapan di Pasar Tilamuta Gorontalo

Berbekal tekad dan keberanian, ia meninggalkan kampung halamannya dan memulai hidup baru sebagai pedagang kelapa parut di Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Parman Halim, Perantau Makassar yang Meniti Harapan di Pasar Tilamuta Gorontalo
FOTO: Nawir Islim, TribunGorontalo.com
PARMAN HALIM -- Kisah Parman Halim (50), pria asal Makassar, Sulawesi Selatan yang merantau ke Gorontalo untuk menjadi pedagang kelapa parut. Alasan dari perantauan Parman yakni karena kekurangan ekonomi. 

“Semua dikerjakan dengan mesin, dan ini memang masih kurang di Boalemo,” ucapnya.

Lapak dagangannya buka dari pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA.

Namun, khusus di bulan Ramadan, ia baru mulai berjualan pukul 13.00 WITA untuk menyesuaikan kebutuhan pelanggan.

Meski telah menemukan pijakan di tanah rantau, Parman tak menampik adanya berbagai kendala, terutama terkait kondisi pasar.

Ia mengeluhkan banyaknya lapak yang rusak dan tidak terurus.

“Pasar ini masih banyak sekali kekurangan. Banyak lapak yang rusak dan tidak terurus, apalagi kalau hujan, banyak atap yang bocor,” keluhnya.

Sebagai penghuni pasar, Parman dan pedagang lain kerap merasakan dampak buruk dari kondisi ini.

Saat hujan deras, genangan air dan banjir menjadi pemandangan biasa. 

Ironisnya, mereka sendiri yang harus membersihkannya tanpa bantuan dari pihak terkait.

“Saya tinggal di dalam pasar, jadi saya tahu. Kalau hujan, pasti banjir, dan kami yang harus membersihkannya sendiri,” lanjutnya.

Tinggal di Gorontalo berarti harus berjauhan dengan anak-anaknya yang masih berada di Makassar bersama orang tua Parman.

Meski rindu selalu menyelimuti, ia tetap berusaha menahan diri demi kebutuhan ekonomi.

“Kalau saya dan istri sudah sangat rindu, kami langsung pulang ke Makassar. Tapi untuk pulang, kami harus membawa banyak uang. Itulah yang selalu kami usahakan di Gorontalo,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Harga jual dagangannya bervariasi. Kelapa parut ia jual seharga Rp5 ribu per butir.

Lalu tepung beras olahan Rp7 ribu per setengah kilogram, dan santan olahan Rp15 ribu per setengah kilogram.

Semua hasil jerih payah itu ia kumpulkan demi kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.

Di tengah segala tantangan, Parman tetap berharap dagangannya selalu laku agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

“Intinya, saya hanya berharap usaha saya lancar dan bisa memenuhi kebutuhan istri, anak, dan orang tua saya,” harapnya.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved