TribunHIS

Parman Halim, Perantau Makassar yang Meniti Harapan di Pasar Tilamuta Gorontalo

Berbekal tekad dan keberanian, ia meninggalkan kampung halamannya dan memulai hidup baru sebagai pedagang kelapa parut di Gorontalo.

|
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Nawir Islim, TribunGorontalo.com
PARMAN HALIM -- Kisah Parman Halim (50), pria asal Makassar, Sulawesi Selatan yang merantau ke Gorontalo untuk menjadi pedagang kelapa parut. Alasan dari perantauan Parman yakni karena kekurangan ekonomi. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo – Kisah hidup Parman Halim (50), pria asal Makassar, Sulawesi Selatan, menggambarkan perjuangan seorang perantau yang berani menghadapi tantangan demi memperbaiki ekonomi keluarga.

Berbekal tekad dan keberanian, ia meninggalkan kampung halamannya dan memulai hidup baru sebagai pedagang kelapa parut di Gorontalo.

Dari Sawah ke Pasar: Perjalanan Seorang Perantau

Parman bukanlah seorang pedagang sejak awal. Sebelum merantau ke Gorontalo pada tahun 2022, ia adalah seorang petani sawah di Sompeng, Sulawesi Selatan.

Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuatnya mengambil keputusan besar untuk mencari penghidupan di tanah rantau.

“Memang karena pengaruh ekonomi, saya memberanikan diri untuk merantau ke Gorontalo,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Tradisional Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Jumat (7/2/2025).

Tiga tahun sudah Parman menjalani kehidupan barunya di Gorontalo.

Ia kini menetap di dalam pasar, tempatnya mencari nafkah setiap hari.

Bukan hanya berdagang, tetapi juga bertahan dengan segala keterbatasan.

Gorontalo: Tanah Rantau yang Strategis

Menurut Parman, Gorontalo adalah tempat yang strategis untuk berdagang.

Selain memiliki banyak kenalan, ia menilai daerah ini memberikan peluang bagi para pedagang kecil sepertinya.

“Saya banyak kenalan di sini, dan Gorontalo memang tempat yang strategis, terutama bagi pedagang seperti saya,” jelasnya dengan nada optimis.

Di lapaknya, Parman menjual berbagai olahan kelapa, mulai dari kelapa parut, tepung beras, hingga santan yang diproses sendiri dengan mesin.

Barang dagangannya masih tergolong langka di Boalemo, sehingga menjadi keunggulan tersendiri baginya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved