Derita Warga Danau Limboto
Warga Pesisir Danau Limboto Gorontalo Tinggal di Tengah Genangan Air dan Hewan Menjijikkan
Warga mengaku pemerintah telah beberapa kali melakukan survei dan mengumpulkan data kependudukan. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret yang dib
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-sejumlah-warga-Dembe-membuat-saluran-air.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Sejumlah warga yang bermukim di sekitar Danau Limboto, tepatnya di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, masih bertahan di tengah kondisi rumah yang telah terendam banjir sejak 2019.
Banjir yang tak kunjung surut membuat mereka harus hidup dalam keadaan yang memprihatinkan.
Air yang tergenang lama tidak hanya merusak rumah dan perabotan, tetapi juga memicu pencemaran lingkungan yang berujung pada berbagai penyakit.
Warga setempat, Siswati Ibrahim, mengungkapkan bahwa sebagian besar rumah telah tenggelam sejak bertahun-tahun lalu.
Baca juga: Sudah Ada 4 Dapur Makan Bergizi Gratis di Gorontalo, Mampu Produksi Total 9 Ribu Porsi Harian
"Banjir ini bukan dari luapan Danau Limboto, tapi air limbah rumah tangga yang tertahan di sini," ujar Siswati kepada TribunGorontalo.com, Rabu (5/3/2025).
Air yang menggenangi rumah-rumah warga ini memiliki bau busuk, penuh lintah, kaki seribu, dan berbagai serangga.
"Kami harus terbiasa hidup dengan kondisi seperti ini," kata dia.
Ia menunjukkan kondisi rumah panggung darurat yang dibangun warga di atas bangunan lama yang telah tenggelam.
Mereka memasak, tidur, dan beraktivitas di ruang sempit yang tersisa, sementara di bawahnya air kotor menggenang tanpa sirkulasi yang baik.
"Kami seperti burung yang hidup di atas sangkar, tidak bisa turun ke bawah karena penuh dengan hewan-hewan menjijikkan," tambahnya.
Baca juga: Muak 7 Bulan Rumah Tergenang Banjir, Warga Dembe Kota Gorontalo Nekat Jebol Tanggul Danau Limboto
Penyakit Mulai Mengancam, Pemerintah Diminta Bertindak
Selain masalah lingkungan, kesehatan warga juga semakin memburuk.
Banyak anak-anak yang mengalami penyakit kulit akibat air yang kotor, sementara perabotan rumah tangga rusak dan pakaian habis dimakan tikus.
"Ada 63 kepala keluarga yang masih bertahan di sini. Tiga rumah di antaranya sudah terendam total selama tujuh bulan, bahkan ada balita yang harus hidup dalam kondisi ini," jelas Siswati.
Warga mengaku pemerintah telah beberapa kali melakukan survei dan mengumpulkan data kependudukan. Namun, hingga kini belum ada solusi konkret yang diberikan.
"Ada bantuan sembako, tapi itu bukan solusi. Yang kami butuhkan adalah tindakan nyata agar air cepat surut dan kami bisa hidup layak lagi," tegasnya.
Karena tak ingin terus menunggu tanpa kepastian, warga pun mengambil inisiatif sendiri dengan cara menjebol tanggul Danau Limboto dan membuat saluran air darurat menggunakan alat seadanya.
"Kami hanya ingin kembali hidup normal, tidak lagi tidur dalam ketakutan setiap hujan turun," tutup Siswati.
Jebol Tanggul
Selama tujuh terakhir rumah tergenang banjir, sejumlah warga ini pun kini mengambil langkah ekstrem.
Dengan peralatan seadanya, mereka nekat menjebol tanggul di sekitar Danau Limboto pada Rabu (5/3/2025).
Baca juga: Pedagang Perlengkapan Salat di Limboto Gorontalo Raup Cuan di Ramadan 2025
Pantauan TribunGorontalo.com, puluhan warga berbondong-bondong membuat saluran sejak pagi hingga sore tadi.
Mereka menggunakan cangkul, sekop, bahkan tangan kosong demi membuka jalan air yang selama ini menggenangi rumah mereka.
Hujan yang tak henti mengguyur Gorontalo mengubah permukiman Dembe ini seperti desa terapung.
Air hujan menggenangi rumah-rumah. Lantai rumah pun mulai retak, tiang kayu jadi lapuk, dan perabotan rusak.
"Kami sudah tidak tahan. Setiap malam kami tidur dalam ketakutan. Kalau hujan turun sebentar saja, air langsung naik lagi," ungkap Siswati Ibrahim, warga Dembe saat ditemui TribunGorontalo.com, Rabu (5/3/2025).(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.