Berita Viral
Demi Hentikan Hujan, Pengantin Wanita Lempar Celana Dalam ke Atap Rumah, Ini Kata Sosiolog
Mitos pengantin perempuan lempar celana dalamnya untuk menghentikan hujan, apakah benar? Begini penjelasan sosiolog dan BMKG
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/dfaergt.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Seorang pengantin perempuan ini viral karena aksi yang dilakukannya.
Aksi yang dianggap sebagai mitos ini pun beredar di media sosial.
Pasalnya hanya dengan satu barang ini, cuaca dapat berubah.
Dilansir dari TribunJatim.com, di media sosial saat ini tengah dihebohkan dengan video pengantin lempar celana dalam ke atap rumah sebagai ritual menghentikan hujan.
Baca juga: Vokalis Band Sukatani Dipecat Jadi Guru, Kini Viral Karena Dapat Pekerjaan Baru dari Bupati
Adapun video viral tersebut salah satunya dibagikan oleh akun Instagram @_thinksmart*** pada Rabu (19/2/2025).
Dalam video viral tersebut memperlihatkan sebuah keluarga yang sedang menyelenggarakan hajatan pernikahan.
Di tengah hujan yang mengguyur deras, pengantin perempuan diarahkan untuk melepas celana dalam dan melemparkannya ke genteng.
Dalam video dinarasikan bahwa tak sampai 5 menit setelah celana dalam dilempar ke atap, hujan mereda.
Baca juga: Viral SK CPNS Pemprov dan Kabupaten Ditangguhkan hingga 2026, Begini Penjelasan BKN
"Akhirnya, ternyata terang benderang wes, ndak hujan," terang perekam video tersebut.
Dalam video tersebut juga dibubuhkan caption yang menerangkan ritual tersebut dipercaya oleh sebagian orang yang mengadakan hajatan seperti pernikahan hingga khitanan untuk menolak hujan.
Saat dimintai tanggapan, dosen Sosiologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Drajat Tri Kartono, beranggapan ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat.
Fenomena itu menurutnya, sebagai sebuah tradisi atau tindakan yang berdasarkan pengalaman masa lampau dalam bentuk relasi atau komunikasi dengan alam dan para penguasa alam.
Baca juga: Guru di Jember Viral di Tiktok Karena Video 5 Menit, Siapakah dia?
"Ada berbagai cara yang secara tradisi itu memang diturunkan, diberikan kepada anak-anaknya dari orang-orang yang hebat. Misalnya yang terkait dengan mengubah hujan atau juga menyangkut terkait ekonomi (pesugihan)," terang Drajat kepada Kompas.com, Jumat (21/2/2025).
Menurutnya, dalam konteks fenomena pawang hujan, celana dalam di sini berperan sebagai sejenis mantra atau atribut untuk menangkal hujan.
Dalam kasus lain, ada juga masyarakat yang menggunakan cabai, bawang merah, hingga sapu lidi yang dibalik.