Berita Gorontalo
2 Hotel Besar di Gorontalo Rugi Miliaran Rupiah Gara-gara Efisiensi Anggaran Pemerintah
Jika situasi ini terus berlanjut, dampak ekonomi bisa semakin meluas, termasuk ancaman terhadap keberlangsungan usaha dan kesejahteraan karyawan.Jika
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Dua hotel ternama di Gorontalo, FOX Hotel dan Grand Q Hotel, mengalami penurunan pendapatan drastis akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Jika situasi ini terus berlanjut, dampak ekonomi bisa semakin meluas, termasuk ancaman terhadap keberlangsungan usaha dan kesejahteraan karyawan.
General Manager FOX Hotel Gorontalo, Rizky Corleon, mengungkapkan bahwa sejak 1 Januari hingga 16 Februari 2025, pendapatan hotelnya merosot hingga Rp1,4 miliar.
"Dari total pendapatan, 90 persen berasal dari kegiatan pemerintahan. Dengan adanya efisiensi anggaran, kami kehilangan sumber pemasukan terbesar," ujarnya kepada Tribun Gorontalo, Selasa (18/2/2025).
Menurutnya, berbagai kegiatan pemerintah yang sebelumnya dijadwalkan di FOX Hotel kini banyak ditunda atau bahkan dibatalkan.
"Aturan ini membuat sekitar 74 persen kegiatan pemerintahan tertunda, sehingga sangat berdampak pada operasional hotel kami," jelasnya.
Sementara itu, meski telah melakukan berbagai strategi mitigasi sejak Januari, pihaknya tetap berharap ada solusi dari pemerintah. Pasalnya, kontribusi hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup signifikan.
"Hanya dari pajak PB-1 saja, pemerintah mendapat Rp2,872 miliar dari hotel kami selama 2024. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah," tegas Rizky.
Grand Q Hotel Alami Penurunan 50 Persen, Karyawan Terancam
Dampak kebijakan efisiensi ini juga dirasakan oleh Grand Q Hotel. Direktur Operasional Rima Fazriah Usman mengatakan bahwa berbagai sektor bisnis perhotelan terkena dampak langsung dari pengurangan anggaran, mulai dari sewa gedung hingga pembatalan acara pemerintah.
"Kami mengalami penurunan pendapatan hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu. Jika tahun sebelumnya kami meraup Rp3 miliar, kini hanya Rp1,5 miliar," ungkapnya.
Lebih parah lagi, kondisi ini memaksa pihak hotel melakukan strategi efisiensi di tingkat karyawan.
"Jatah kerja karyawan harus dikurangi melalui sistem shift, karena operasional tidak bisa lagi berjalan seperti biasa," tambahnya.
Dampak dari kebijakan ini sudah terasa sejak Januari. Awalnya hanya sekadar isu, tetapi setelah Instruksi Presiden (Inpres) keluar dan sosialisasi dilakukan, efeknya langsung dirasakan oleh sektor perhotelan.
"Biasanya awal tahun banyak kegiatan pemesanan ruangan, tapi sekarang banyak yang batal atau belum ada kepastian," jelas Rima.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/EFISIENSI-ANGGARAN-Imbas-dari-adanya-effesiensi-anggaran-berdampak-pada-pendapatan-sejumlah-hotel.jpg)