Kepiting Langka Gorontalo
Kepiting Tapal Kuda, Hewan Purba Muncul di Gorontalo Utara, Harga Darahnya Rp 213 juta per liter
Belangkas atau kepiting tapal kuda muncul di Desa Malambe, Kecamatan Ponelo Kepulauan, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-KEPITING-TAPAL-KUDA.jpg)
Slamet mengatakan, penyebab kepiting tapal kuda selamat dari kepunahan massal hingga saat ini masih menjadi misteri.
"Masih menjadi misteri bagaimana hewan kelas rendah seperti kepiting darah biru mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman," ucapnya.
Namun, ia menduga, habitat kepiting tapal kuda menjadi salah satu alasan kuat mengapa hewan ini dapat selamat dari kepunahan massal.
"Diduga ini berhubungan dengan habitat hidup di perairan yang dampak perubahan iklimnya tidak separah wilayah daratan," kata Slamet.
"Selain itu, diperkuat juga oleh anatomi tubuh yang terlindungi, yaitu cangkang keras seperti armadilo, sehingga tidak mudah dimangsa predator, kecuali manusia," imbuh Slamet.
Kepiting tapal kuda memiliki struktur tubuh yang terdiri dari cangkang depan (prosoma), cangkang belakang (opisthosoma), dan ekor serupa duri (telsom).
Beberapa orang mengira bahwa kepiting tapal kuda berbahaya karena memiliki ekor berduri. Faktanya, hewan ini sama sekali tidak berbahaya.
Ekor tajamnya itu hanya digunakan untuk membalikkan badannya ketika tergulung ombak.
Meski memiliki cangkang yang keras, kepiting tapal kuda sangat peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Hewan ini memiliki 10 mata, sepasang mata majemuk pada prosoma dan “reseptor foto” di area lain, terutama di sepanjang ekor.
Kepiting tapal kuda sangat peka terhadap cahaya.
Adapun habitat kepiting darah biru ini sejak dahulu kala adalah perairan pesisir yang tenang.
Kepiting tapal kuda jadi bagian penting dari ekologi
Kepiting tapal kuda merupakan bagian penting dari ekologi masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir.
Telur hewan ini menjadi sumber makanan utama bagi burung pantai yang bermigrasi ke utara, seperti burung Red Knot yang terancam punah.
Tak hanya burung, banyak spesies ikan yang juga memakan telur kepiting tapal kuda. Kepiting tapal kuda dewasa juga menjadi mangsa bagi penyu laut, buaya, keong, kuda, dan hiu.
Punya darah biru dan terancam punah
Sayangnya, kepiting tapal kuda masuk ke dalam daftar hewan dilindungi sejak tahun 1999 melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999.
Hewan purba satu ini memiliki keunikan yang menjadi incaran dunia medis, yaitu darahnya yang berwarna biru.