Sabtu, 14 Maret 2026

Relokasi PKL UNG

3 Lokasi di Kota Gorontalo jadi Opsi untuk Pedagang yang Digusur dari Depan Kampus I UNG

Setelah penertiban dilakukan, kini Pemkot Gorontalo merekomendasikan tiga lokasi alternatif bagi para pedagang.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 3 Lokasi di Kota Gorontalo jadi Opsi untuk Pedagang yang Digusur dari Depan Kampus I UNG
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
KAWASAN UNG: Potret lokasi depan kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang jadi tempat strategis bagi penjual. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – DPRD dan Pemerintah Kota Gorontalo masih membahas solusi terbaik bagi para pedagang yang sebelumnya berjualan di trotoar depan Kampus Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Setelah penertiban dilakukan, kini Pemkot Gorontalo merekomendasikan tiga lokasi alternatif bagi para pedagang.

Ketua DPRD Kota Gorontalo, Irwan Hunawa, menegaskan bahwa trotoar di depan Kampus UNG memang tidak diperuntukkan bagi pedagang.

Aktivitas pedagang di tempat ini kata dia dapat menyebabkan kemacetan dan mengganggu pejalan kaki.

"Penertiban ini bukan untuk menghambat rezeki pedagang, tetapi untuk menata kota agar lebih tertib. Kami juga telah menyiapkan solusi tempat baru bagi mereka," ujar Irwan, Rabu (5/2/2025).

Ada tiga tempat alternatif yang muncul sebagai opsi untuk lokasi berjualan para pedagang ini.

1.Kawasan Kuliner Kalimantan Madura (Kalimadu)

Kawasan ini memang telah dipersiapkan sebagai pusat kuliner dan perdagangan.

Dengan infrastruktur yang lebih tertata dan lokasi strategis, Kalimadu diharapkan dapat menjadi tempat yang nyaman bagi pedagang dan pembeli.

Kawasan Andalas

Kawasan ini juga menjadi salah satu opsi karena memiliki ruang yang cukup bagi para pedagang.

Pemkot berencana menata kawasan ini agar lebih kondusif untuk aktivitas jual beli tanpa mengganggu lalu lintas dan fasilitas umum.

Pasar Sentral Gorontalo

Dengan kondisi Pasar Sentral yang belakangan ini sepi, relokasi pedagang dari depan UNG ke pasar ini dinilai sebagai langkah strategis untuk kembali menghidupkan pasar dan meningkatkan daya tarik pengunjung.

Irwan menegaskan bahwa pemindahan pedagang ke tempat yang lebih tertata adalah bagian dari perencanaan jangka panjang Kota Gorontalo.

Selain menciptakan ketertiban, solusi ini juga bertujuan meningkatkan ekonomi para pedagang di lokasi yang lebih layak.

Saat ini, Pemkot Gorontalo masih berada dalam masa transisi pemerintahan.

Oleh karena itu, berbagai langkah penertiban dan relokasi pedagang akan diinventarisasi untuk kemudian dijalankan oleh wali kota yang baru.

Irwan optimistis bahwa Wali Kota terpilih, Adhan Dambea, akan mampu menuntaskan permasalahan ini dengan kebijakan yang tepat.

"Beliau sangat paham kondisi Kota Gorontalo dan tahu langkah apa yang harus diambil," tutup Irwan.

Pemkot Gorontalo mengimbau para pedagang untuk bersabar dan mengikuti arahan yang diberikan demi menciptakan lingkungan kota yang lebih tertata dan nyaman bagi semua pihak.

Curhat Pedagang

Kawasan depan kampus I UNG memang dinilai strategis. Karena itu, banyak pedagang  yang berjualan di tempat ini, bahkan menolak jika harus pindah. 

Ramli Idris misanya, saat diwawancarai pada awal Januari 2025 meminta kawasan ini dapat dijadikan sebagai pusat wisata kuliner resmi dan bersedia untuk membayar retribusi jika diminta, dan menata area itu agar lebih rapi.

“Kami siap memenuhi aturan pemerintah, asalkan tetap diperbolehkan berjualan di sini. Tempat ini sudah memberikan banyak manfaat bagi kami pedagang dan masyarakat,” ucap Idris kepada TribunGorontalo.com, Minggu (5/1/2025).

Ramli dan para pedagang lain sangat berharap Pemerintah Kota Gorontalo dapat mempertimbangkan ulang keputusan ini demi keberlangsungan usaha mereka. 

Mereka optimistis, dengan pengelolaan yang baik, kawasan ini dapat menjadi aset ekonomi dan wisata kuliner untuk Kota Gorontalo.

Sementara itu, Hans, pedagang lainnya mengatakan lokasi ini bisa menjadi sangat ramai karena dekat dengan kos-kosan mahasiswa.

Jadi jika dia harus pindah, akan berpengaruh besar kepada penghasilannya.

"Jika kami harus pindah, dampaknya pasti akan besar, terutama pada pendapatan,” ucapnya 

Bahkan kata Hans, jika pedagang berhenti berjualan selama satu atau dua hari saja sudah dapat menurunkan pendapatan secara signifikan. 

Apalagi jika mereka harus mencari lokasi baru, potensi kehilangan pelanggan menjadi resiko utama yang akan dihadapi.

"Sulit sekali mencari pelanggan baru," tuturnya.

Hans juga mengungkapkan bahwa dia siap membayar retribusi resmi kepada pemerintah daerah jika dibutuhkan.

Selain itu, mereka juga akan menjaga kebersihan dan kerapian tempat tersebut agar tetap nyaman untuk semua pihak.

“Kami hanya berharap ada solusi terbaik. Jika memang harus ada aturan tambahan, kami siap mematuhinya, asalkan kami tetap bisa berjualan di sini,” ujarnya 

Kata Hans, jika mereka pindah lokasi berjualan tak hanya akan berdampak pada para pedagang, tetapi juga pada mahasiswa dan masyarakat sekitar yang terbantu oleh keberadaan mereka. 
(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved