Sabtu, 7 Maret 2026

Human Interest Story

17 Tahun Tanpa Listrik, Yusni dan Keluarga Tetap Bahagia di Rumah Lapuk

Meski hidup di rumah anyaman bambu yang sudah mulai lapuk, keluarga ini tetap bersyukur dan bahagia meski tanpa listrik, menjadikan suasana rumah mere

Tayang:
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 17 Tahun Tanpa Listrik, Yusni dan Keluarga Tetap Bahagia di Rumah Lapuk
FOTO: Efriet Mukmin, TribunGorontalo.com
HIS TRIBUN: Kondisi Ruma Rusni Supu yang terbuat dari anyaman bambu sangat memprihatinkan di Desa Motilango, Kecamatan Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo Senin (3/2/2025) 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Yusni Supu, seorang ibu rumah tangga dari Desa Tolongio, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, menjalani hidup penuh tantangan bersama suami dan ponakannya.

Meski hidup di rumah anyaman bambu yang sudah mulai lapuk, keluarga ini tetap bersyukur dan bahagia meski tanpa listrik, menjadikan suasana rumah mereka berbeda dari kebanyakan.

Yusni tinggal bersama suaminya, Roni Abdullah, serta ponakannya di Desa Motilango.

Ia mengungkapkan bahwa rumah yang mereka tinggali sejak tahun 2008 ini bukanlah milik mereka, melainkan tanah milik orang lain yang mereka sewa.

Baca juga: DPRD Bone Bolango Desak Evaluasi Galian C di Sungai Bone, Ancaman Banjir Kian Nyata

Rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu kini mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Bagian-bagian bambu sudah lapuk, pendasi retak, dan atapnya bocor.

Bahkan beberapa dinding rumah sudah berlubang, membuat keadaan semakin memprihatinkan.

Meski begitu, Yusni dan keluarganya tetap menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Tak memiliki akses listrik, keluarga ini hanya mengandalkan lampu botol yang diberi minyak tanah sebagai penerangan.

"Di rumah ini tidak ada listrik, jadi di malam hari sangat gelap. Kami hanya mengandalkan lampu botol," ujarnya dengan nada pelan.

Sudah 17 tahun mereka hidup tanpa penerangan listrik, sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan.

Baca juga: Perusahaan Farmasi di Gorontalo Mangkir Bayar Pajak Selama Dua Tahun

Keadaan ini semakin dirasakan saat malam hari tiba, ketika kegelapan menyelimuti rumah mereka. 

Meski hidup sederhana, Yusni dan suaminya, Roni, tetap berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan bertani.

Roni bekerja di lahan milik orang, dengan sistem bagi hasil setelah panen. 

Namun, pekerjaan ini pun tidak memberikan jaminan, karena hasil panen mereka hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari.

Dengan hanya bergantung pada hasil panen jagung, Roni tidak memiliki pekerjaan sampingan.

Mereka berdua berharap agar hasil panen kali ini dapat mencukupi kebutuhan mereka, serta menambah tabungan untuk membangun rumah yang lebih layak.

Keprihatinan lain yang dihadapi keluarga ini adalah kondisi rumah yang sering kali bergoyang akibat angin kencang.

Guna mencegah agar rumah tak roboh, Yusni dan keluarganya terpaksa mengikat rumah dengan tali.

Baca juga: Baru Saja Terjadi Gempa Bumi Senin Sore 03 Februari 2025, Kedalaman Hanya 13 Km

"Saat angin kencang, rumah ini bergoyang seperti akan terbang. Kami pasang tali sebagai penahan agar tidak roboh," tutur Yusni.

Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, mereka tetap tabah.

Yusni menambahkan bahwa selama ini mereka belum pernah mendapat bantuan rumah dari pemerintah. 

Kini, mereka sudah mulai menabung untuk membangun rumah yang lebih layak.

Harapan mereka kini tertuju pada hasil panen yang bisa sukses dan cukup untuk membantu mewujudkan impian tersebut.

"Semoga hasil panen kali ini berhasil, dan kami bisa menambah tabungan untuk membangun rumah baru," harap Yusni. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved