Minggu, 22 Maret 2026

Human Interest Story

Mengenal Suku Polahi di Hutan Boliyohuto yang Ikut Turun Bersama Tiga Warga Gorontalo Utara

Polahi adalah salah satu suku terasing yang masih hidup di pedalaman hutan Pulau Sulawesi. Keberadaan mereka berada di sekitar Gunung Boliyohuto.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Minarti Mansombo
zoom-inlihat foto Mengenal Suku Polahi di Hutan Boliyohuto yang Ikut Turun Bersama Tiga Warga Gorontalo Utara
Kolase Foto Kompas.com/TribunGorontalo.com
SUKU POLAHI GORONTALO - Foto Kiri Suku Polahi di Gunung Boliyohuto, Foto kanan Sosok Sima Suku Polahi ikut dengan tiga warga Gorontalo Utara untuk melihat bagaimana suasana luar, Rabu (28/1/2025), (Foto : Efrit Mukmin/TribunGorontalo.com) 

TRIBUNGORONTALO.COM-Polahi adalah salah satu suku terasing yang masih hidup di pedalaman hutan Pulau Sulawesi. Keberadaan mereka terdata berada di sekitar Gunung Boliyohuto, Provinsi Gorontalo.

Dilansir dari Kompas.com Kata Polahi bagi sebagian warga yang hidup di Gorontalo merupakan sebuah cerita yang diliputi dengan aroma mistis.

Walaupun hampir sebagian besar orang Gorontalo mengenal kata itu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar tahu dengan keberadaan Polahi.

Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, literer suku Polahi sangat minim. Ini karena sikap tertutup yang mereka tunjukkan sejak dulu. Konon, Polahi takut jika bertemu dengan orang lain.

Namun, beberapa tahun belakangan ada sebagian kelompok Polahi yang sudah bisa hidup bersosial dengan warga lainnya, walaupun masih mempertahankan kebiasaan primitif mereka.

Salah satu kelompok yang bisa ditemui adalah keluarga Polahi yang hidup bermukim di pedalaman Hutan Humohulo pegunungan Boliyohuto, Paguyaman.

Baca juga: Ramalan Zodiak Aries - Taurus - Gemini Besok, Kamis 30 Januari 2025: Soal Cinta hingga Karier

Akses menuju ke pemukiman tersebut tidaklah mudah. Butuh waktu jalan kaki selama sekitar delapan jam dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, untuk mencapai rumah keluarga Polahi di sana.

Suku Polahi dianggap mempunyai ilmu kesaktian bisa menghilang dari pandangan orang. Mereka dipercaya punya kemampuan berjalan dengan sangat cepat, dan mampu hidup di tengah hutan belantara.

Kehidupan Polahi yang bertahan di hutan pedalaman Boliyohuto dan tidak mau turun hidup bersama dengan warga kampung, membuat cerita mistis mengenai mereka terus bertahan.

Menurut sejarah yang bisa ditelusuri, sejatinya suku Polahi merupakan warga Gorontalo yang pada waktu penjajahan Belanda dulu melarikan diri ke dalam hutan.

Pemimpin mereka waktu itu tidak mau ditindas oleh penjajah. Oleh karena itu, orang Gorontalo menyebut mereka Polahi, yang artinya "pelarian."

Jadilah Polahi hidup beradaptasi dengan kehidupan rimba. Setelah Indonesia merdeka, turunan Polahi masih bertahan tinggal di hutan.

Sikap anti penjajah tersebut terbawa terus secara turun temurun, sehingga orang lain dari luar suku Polahi dianggap penindas dan penjajah.

Keterasingan mereka di hutan membuat Polahi tidak terjangkau dengan etika sosial, pendidikan dan agama.

Turunan Polahi lalu menjadi warga yang sangat termarginalkan dan tidak mengenal tata sosial pada umumnya.

Mereka juga tidak mengenal baca tulis serta menjadikan mereka suku yang tidak menganut agama.

Kini, walau belum menghafal sistem penanggalan modern dengan benar, Polahi di Hutan Humohulo setiap pekan turun ke pasar desa untuk menjual hasil kebun mereka dan berbelanja kebutuhan hidup mereka.

Bahkan, para Polahi kini menawarkan jasa sebagai buruh angkut barang para penambang yang melewati pemukiman mereka.

Setidaknya, Polahi kini sudah mengenal nilai tukar uang. Bahkan. anak-anak Polahi yang sudah dewasa kini sudah mahir menggunakan telepon seluler untuk komunikasi dengan warga lainnya.

Kondisi ini mengindikasikan sebenarnya Polahi bisa membuka diri dari sentuhan peradaban sosial.

Pendekatan dari pemerintah untuk membuat mereka mengenal agama dan pendidikan memerlukan kajian yang tepat agar penanganan kehidupan sosial mereka tepat sasaran.

Baca juga: Viral Detik-detik Pelakor Digerebek Warga, Panik hingga Sembunyi di Lemari

Pemerintah pernah menyediakan mereka lokasi Rumah Layak Huni (Mahayani) di Desa Bina Jaya dengan membangun sembilan rumah untuk mereka huni. Namun, Polahi lebih memilih kembali ke hutan.

Kebiasaan primitif yang hingga kini masih terus dipertahankan turunan Polahi adalah kawin dengan sesama saudara. Karena tidak mengenal agama dan pendidikan, anak seorang Polahi bisa kawin dengan ayahnya, ibu bisa kawin dengan anak lelakinya, serta adik kawin dengan kakaknya.

Selain di Paguyaman, suku Polahi juga bisa ditemui di daerah Suwawa dan Sumalata. Semuanya berada di sekitar Gunung Boliyohuto, Provinsi Gorontalo.

Suku Polahi Ikut Turun Bersama Warga Gorontalo Utara

Seperti yang terjadi baru-baru ini, Suku Polahi ikut dengan tiga warga Gorontalo Utara untuk melihat bagaimana suasana luar.

Salah satu warga Desa Tolongio Dendi Hemeto, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara membawa polahi ikut bersamanya.

"Awalnya kami pergi ke Boliyohuto Kabupaten Gorontalo untuk bekerja, kemudian ditengah perjalanan kami mendapati perkampungan polahi" ujar Dendi kepada TribunGorontalo.com

Polahi disana bekerja sebagai kijang atau pengangkut barang yang dibayar jasanya, kami melihat Polahi bernama Sima yang ikut membantu membawa beras menuju lokasi pekerjaan dengan bayaran Rp 10 ribu perkilo.

"Polahi disana pakaiannya sudah sama seperti kita," jelasnya.

Dendi mengatakan ketika akan kembali turun, Sima ingin ikut dengan mereka, keluarganya pun mengizinkan Sima untuk ikut. Warga polahi sangat ramah dan baik-baik.

Diketahui Sima sudah akrab dengan mereka, karena dia selalu membawa beras sampai ke lokasi tujuan.

Akhirnya perjalanan pulang membutuhkan waktu 12 jam dari pegunungan Boliyohuto menuju ke Kecamatan Monano dengan berjalan kaki, karena motor mereka hanya terparkir di Desa Juriati Kecamatan Monano tepatnya di Hutan Tanaman Industri (HTI).

Setelah sampai di tempat parkiran motor, mereka pun singgah di Pantai Monano, Sima terkejut melihat air yang sangat luas, dan kaget bahwa air laut asin.

Hal tersebut ditanyakan kenapa airnya asin, siapa yang menaruh garam di sini, mereka bertiga pun tertawa karena Sima menanyakan hak tersebut.

Baca juga: Pantangan hingga Makna Warna Merah di Tahun Baru Imlek

Setelah itu mereka kembali ke Rumah yang ada di Desa Tolongio, banyak warga yang datang untuk melihat serta mengambil foto dan video, malamnya Sima di ajak ke kantor Bupati, dia pun kaget melihat banyak lampu-lampu.

"Sima terkejut melihat kantor Bupati, bahkan ketika masuk di Indomaret ia merasa takut karena akan terjepit di pintu kaca, setelah didalam dia pun merasa kedinginan, kami pun memberikannya roti," jelas dendi dengan senyum

Adapun kegiatannya di rumah hanya duduk. Sima memiliki Handphone Android yang baru dibeli lima hari lalu. Hanphone itu diperoleh dari jasa angkut barang yang selama ini dikumpulkannya.

Handphone Sima digunakan hanya untuk mendengar musik, karena ia tidak bisa membaca dan menulis.

"Setiap hari seperti itu jika ada kuota akan nonton video, jika tidak hanya putar musik seharian," ungkap Dendi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved