Human Interest Story
Curhat Penjual Kopra di Boalemo Gorontalo saat Musim Hujan: Tak Jualan Seminggu
Setelah dibakar, untuk menghilangkan kadar air di dalamnya, kopra tersebut harus dikeringkan di bawah sinar matahari.
Penulis: Nawir Islim | Editor: Prailla Libriana Karauwan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/aefrhwsrju.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo -- Ical Kamumu, seorang penjual kopra di Desa Hungayonaa, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo curhat tak jualan selama seminggu.
Hal ini dikarenakan hujan terus mengguyur di wilayah Boalemo.
Kata Ical, kopra miliknya ini setelah di asap harus di keringkan.
Namun karena hujan, dirinya jadi menjual kopra basah yang kadang tidak dibeli.
Baca juga: Warga Kampung Bugis Kota Gorontalo Was-was Saat Turun Hujan Karena Tanggul Jebol
"Setelah di asap, tentunya kopra juga harus dikeringkan secara menyeluruh dengan matahari, akan tetapi sudah seminggu ini hujan terus dan kami tidak bisa menjualnya," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Jumat (24/1/2025).
Akibatnya, Ical selama seminggu tak punya pemasukan.
Harga kopra yang dijualnya diberi harga Rp 16 ribu per kilogram, dalam satu bulan Ical mampu menjual kopra hingga lebih dari satu ton.
Kopra ini juga kadang dijual di perusahaan seperti minyak kelapa dan olahan snack yang ada unsur kelapanya di dalam.
"Banyak pabrik yang sudah menanyakan stok kopra dan hingga sekarang kami belum menjual sama sekali," ucapnya.
Baca juga: Cerita Pekerja Kelapa Pohuwato-Gorontalo saat Harga Kopra Anjlok: Upah Turun Rp 200 per Kg
Proses pembuatan kopra ini kata Ical cukup rumit karena banyak tahapan yang harus dilalui sehingga kopra siap untuk dijual.
Kopra ini berasal dari kelapa tua.
Kelapa tua ini harus dibelah dan dipisahkan dari tempurungnya.
Isi kelapanya itu kemudian akan dicincang lalu dibakar.
Setelah dibakar, untuk menghilangkan kadar air di dalamnya, kopra tersebut harus dikeringkan di bawah sinar matahari.
Hal itu yang membuat Ical bersikukuh kopra ini harus dikeringkan.
Setelah itu, kopra bisa dijual ke pasar.
Ical berharap musim hujan ini bisa segera selesai agar penjualan kopranya kembali lancar.
Baca juga: Peluh Kesah Cerita Umar Hamka, Seorang Penjual Es Cendol di Gorontalo Utara
"Saya masih harus menunggu hingga musim hujan ini segera berakhir, agar penjualan kopra saya bisa kembali lancar," tutupnya.
Sementara itu, Forcaster Stasiun Klimatologi, BMKG Gorontalo, Mulyadi Kaini mengatakan musim hujan di Gorontalo diperkirakan berlangsung hingga Juni 2025 mendatang, sedangkan musim kemarau baru akan dimulai bulan Juli nanti.
Fenomena La Nina pun menjadi faktor pemicu meningkatnya intensitas curah hujan di beberapa wilayah di Gorontalo.
"Peluang curah hujan tertinggi itu ada di dua wilayah, yakni Gorontalo Utara dan Bone Bolango," ungkapnya
Namun, meskipun telah memasuki musim penghujan, Gorontalo kata Mulyadi belum masuk di kategori cuaca ekstrem.
Hanya saja karena musim penghujan, jadi curah hujan yang turun lebih meningkat dari biasanya.
"Sebenarnya sekarang Gorontalo tidak mengalami cuaca ekstrem, hanya saja ini adalah puncak musim hujan. Jadi, curah hujannya lebih tinggi dari biasanya," ujarnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.