Cerita Pekerja Kelapa Pohuwato-Gorontalo saat Harga Kopra Anjlok: Upah Turun Rp 200 per Kg

Merosotnya harga kopra di tingkat petani kelapa di Kabupaten Pohuwato sejak beberapa waktu terakhir, berdampak langsung kepada petani.

Penulis: redaksi | Editor: lodie tombeg
TribunGorontalo.com/Ronald Rampi
Ramin sedang memisahkan isi kelapa dari batok di Desa Manawa, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato, Rabu (1/6/2022). 

Laporan Ronald Rampi, wartawan TribunGorontalo.com dari Pohuwato

TRIBUNGORONTALO.COM, Marisa - Merosotnya harga kopra di tingkat petani kelapa di Kabupaten Pohuwato sejak beberapa waktu terakhir, berdampak langsung kepada petani dan buruh harian pengolah kelapa

Pasalnya, harga kopra yang biasa dibandrol Rp 10.300 per kg kini telah turun menjadi Rp 9.500 per kg. Harga tersebut ikut mempengaruhi jumlah penghasilan para pelaku usaha pertanian kelapa, termasuk para tukang kupas atau yang disebut tukang kore (pekerja) kopra

Ramin (50), warga Desa Manawa Kecamatan Patilanggio Kabupaten Pohuwato misalnya. Saat berbincang dengan TribunGorontalo pada Rabu (1/6/2022) sore, ayah 4 orang anak ini mengungkapkan turunnya harga pembelian kopra ini sangat berdampak terhadap dirinya dan para tukang kupas kelapa lainnya.

"Saya hanya makan gaji (pekerja) di sini. Ini kepala milik si Nune (majikannya). Saya dibayar Rp 600 per kg untuk ba kore kelapa (memisahkan daging dari batok kelapa)," terang Ramin.

Biasanya, mereka bisa mendapat harga sewa jasa lebih dari yang sekarang yakni sebesar Rp 700 - 800 per kg.

Dia pun menuturkan, sang majikan adalah seorang pengusaha yang biasa membeli kelapa. Kelapa tersebut dibeli dari para petani dengan harga Rp 2.000 per biji.

Di samping itu, sang majikan juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan proses pengupasan batok kelapa dengan harga Rp 150 per biji. 

Menurut Ramin, selain dipengaruhi harga kopra yang menurun, penghasilan para pelaku usaha pertanian kelapa ini juga terkena dampak dari anjloknya harga arang tempurung.

Disebutkannya, harga tempurung saat ini hanya Rp 1.300 per kg. Kondisi ini sangat jauh dari yang dibayangkan sebelumnya. 

Untuk itu, Ramin pun berharap agar pemerintah daerah bisa mengupayakan langkah untuk menormalkan kembali harga kopra dan arang tempurung di pasaran.

Karena, pendapatan yang kerap mereka terima dari usaha mengupas kepala dan sebagainya sangatlah menunjang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. 

"Kalau tidak berusaha dengan mengolah kelapa ini, kami tidak tahu bagaimana cara memenuhi kebutuhan. Karena untuk berharap di usaha pertanian jagung, sering mengalami gagal panen. Karena tanggul selalu jebol, dan ladang tergenang banjir," cetusnya.

Dia menjelaskan, profesi sebagai buruh tani kelapa ini telah dia jalani sejak lama. Bahkan, dari hasil kerja mengelola kelapa itu, dia telah bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan seluruh anak-anaknya.  (*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved