Hari Patriotik Gorontalo
Momen Hari Patriotik 23 Januari, Pejagub Gorontalo Ruddy Salahuddin: Harus Merdeka dari Kemiskinan
Selanjutnya Forkopimda masuk ke dalam rumah sejarah peninggalan Nani Wartabone yang masih berada satu kawasan dengan makam Nani Wartabone dan istrinya
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Pj-Gubernur-Gorontalo-Ruddy-Salahuddin-di-kediaman-Pahlawan-Gorontalo.jpg)
Menurut Hari, sosok Nani Wartabone adalah tokoh yang cerdas dalam mengambil peluang dan keputusan.
"Saat itu di suasana yang berbeda dengan kondisi saat ini, pemikiran beliau saya kira lebih maju duluan dari pada yang lain," puji Hari.
Keterbatasan akses dan transportasi dulu kata Hari, bisa dimaksimalkan Nani Wartabone untuk membangun koordinasi dan konsolidasi dengan petinggi-petinggi bangsa.
"Ke Jakarta saat itu bisa berapa hari, mungkin bisa berminggu-minggu bahkan bulanan," bebernya.
Keputusan Nani Wartabone memproklamirkan kemerdekaan Gorontalo pada 23 Januari 1942, dinilai Hari adalah keputusan yang sangat bijak dan berani.
Nani Wartabone menurutnya adalah sosok yang penuh semangat, rela korbankan harta, jiwa raga, tangis, bahkan nyawa.
Simson Zet Ringu menambahkan, peringatan kali ini adalah refleksi bagi masyarakat Gorontalo untuk kembali merenungi makna dan perjuangan Nani Wartabone.
"Apakah kita siap? Mampu menjadi penerus Wartabone?" tanya Simson.
Ia berharap, pertanyaan itu bisa menjadi bahan renungan sekaligus semangat untuk melahirkan sosok Nani Wartabone di generasi selanjutnya.(*)