Dugaan Pungli di SMA Gorontalo
Duduk Perkara Tudingan Penyalahgunaan Dana BOS di SMAN 1 Botumoito Gorontalo, Kepsek Blak-blakan
Kepala Sekolah SMAN 1 Botumoito, Nansy Rahman, mengungkap duduk perkara tudingan penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM – Kepala Sekolah SMAN 1 Botumoito, Nansy Rahman, mengungkap duduk perkara tudingan penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Menurut Nansy, pihak sekolah sempat menyelenggarakan kegiatan wisata religi dan edukasi tahun 2023.
Saat itu, guru-guru dan sejumlah siswa mengunjungi Universitas Negeri Gorontalo dan asrama haji.
"Pada tahun lalu, kami mengadakan kunjungan ke Universitas Negeri Gorontalo dan wisata religi ke Mes Haji. Ini dilakukan untuk memberikan pengalaman kepada siswa dan memotivasi mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mengingat minat kuliah di kalangan siswa kami masih rendah," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Nansy menjelaskan bahwa sekolah menanggung biaya konsumsi dan tiket masuk, sementara orang tua siswa menanggung biaya transportasi.
"Kami pihak sekolah menanggung biaya konsumsi dan tiket masuk. Sedangkan untuk transportasi, orang tua yang menanggung biaya dari Boalemo ke penginapan, ke kampus, dan kemudian kembali," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa program ini adalah program unggulan setiap tahun untuk siswa kelas 12, yang bertujuan memberikan pengalaman belajar di luar kelas.
"Anak-anak yang bukan penerima PIP harus menabung Rp 2 ribu per hari, sementara bagi penerima PIP, dana tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan seperti itu," tambahnya.
Terkait dengan dugaan ketiadaan transparansi dalam penggunaan dana BOS, Nansy dengan tegas membantahnya.
Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah selalu transparan dan rutin mengadakan rapat dengan guru untuk membahas pengelolaan dana BOS.
"Pengelolaan dana BOS terus mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sekarang sudah ada raport pendidikan yang menunjukkan capaian satuan pendidikan, dengan simbol warna merah, kuning, dan hijau. Semua informasi ini dapat diakses oleh guru," katanya.
Nansy juga mengungkapkan bahwa dana BOS kini bersifat non tunai, di mana semua pembiayaan, termasuk biaya transportasi guru yang mengikuti kegiatan, langsung ditransfer ke rekening masing-masing guru.
"Sekarang, dana BOS bersifat non tunai. Bendahara tidak memegang uang tunai. Pembayaran langsung ditransfer ke penyedia atau rekening guru. Jadi, tidak ada uang tunai yang diserahkan langsung," ujarnya.
Nansy menyebutkan bahwa pada tahun 2023, rapor pendidikan sekolah mereka masih menunjukkan beberapa warna merah dan kuning.
Namun, pada tahun ini, hasilnya sudah jauh lebih baik dengan sebagian besar capaian berwarna hijau.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.