Minggu, 8 Maret 2026

Berita Kabupaten Gorontalo

Pihak RSUD MM Dunda Limboto Gorontalo Ungkap Penanganan Melanda Uno, Bantah Telantarkan Pasien

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M.M Dunda Limboto buka suara soal pasien meninggal dunia.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Pihak RSUD MM Dunda Limboto Gorontalo Ungkap Penanganan Melanda Uno, Bantah Telantarkan Pasien
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
Ilustrasi - Keluarga Melanda Uno, pasien RSUD Dr MM Dunda Limboto, menyayangkan pihak rumah sakit yang lambat dalam menangani pasien. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M.M Dunda Limboto buka suara soal pasien meninggal dunia.

Wakil Direktur RSUD Dunda, Limboto Andi Naue, mengatakan tudingan pihaknya menelantarkan pasien (Melanda Uno) tidaklah benar.

“Kami turut berbela sungkawa dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Pada dasarnya tidak ada pembiaran terhadap pasien,”ungkapnya saat ditemui TribunGorontalo.com, Senin (2//12/2024).

Ia menyebut tenaga medis sudah berusaha secara maksimal namun pasien tak tertolong.

“Keluhan awal yaitu panas dan sesak. Setelah dilakukan pengkajian, ternyata pasien ada batuk, dan pasien sudah bolak balik ke rumah sakit karena hipokalemia,” ungkapnya.

Hipolamia diketahui merupakan kondisi di mana kalium dalam darah jumlahnya rendah dari batas normal (3,5 mEq/L).

Kronologi Penanganan Pasien

Setelah memeriksa kondisi pasien, dokter UGD berkonsultasi dengan dokter spesialis interna. 

Mereka lalu memberikan obat, foto thorax, serta uji laboratorium.

Dari hasil lab, tidak ditemukan indikasi infeksi paru.

“Jadi memang di UGD itu harus memastikan apakah dia harus dirawat oleh dokter paru atau interna,” jelasnya.

Ketika pasien tidak ada gambaran adanya infeksi paru, tenaga medis mendorong pasien ke ruang Irina F bawah pada pukul 18.00 Wita.

“Jadi dari proses pukul 3 sore dia masuk sampai didorong. Itu proses untuk menentukan si pasien ini akan dirawat siapa,” terangnya.

Setelah tiba di ruangan, pasien langsung dipasang oksigen.

Kemudian saat hasil lab keluar, ditemukan hemoglobin 8 gram, GDS 91, kalium 3 dan trombosit 78 ribu.

“Normalnya trombosit harus 150-450 ribu, sehingga dokter jaga ruangan melaporkan ke penanggung jawab pasien. Di situ ada instruksi pemberian 8-10 kantong,” bebernya.

Lalu pukul 21.09 Wita, tekanan darah pasien menurun sehingga dokter langsung memindahkan pasien ke unit layanan intensif.

Selama di ruangan Irina F bawah, baru terungkap pasien sempat mengalami pendarahan tiga hari sebelumnya.

“Itu merupakan warning memang nanti di Irina baru terungkap pendarahan dan BAB encer,” tuturnya.

Kemudian pihak rumah sakit meminta 8 kantong darah trombosit, namun sampai pagi hari, mereka baru menemukan dua kantong trombosit.

Jadi dokter menginstruksikan untuk pemberian dulu cairan untuk meningkatkan tekanan darah dan d tetap dimasukan kantong darah meski baru dua yang ditemukan.

“Karena itu yang sudah ada karena yang lain sementara berproses dengan harapan ketika trombosit ini masuk yang lain bisa selesai,” ucapnya.

Sayangnya, ketika trombosit sampai pasien sudah meninggal dunia.

“Qadarullah, ketika trombosit sampai, pasien meninggal dunia,” pungkasnya.

Baca juga: 3 Fakta Kenaikan UMP Gorontalo Tahun 2025, Sejumlah Buruh Pesimis

Sebelumnya, keluarga pasien Melanda Uno (25), mengungkapkan kekecewaan mendalam atas pelayanan di RSUD MM Dunda Limboto.

Warga Desa Duwanga itu dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (27/11/2024)

Melanda diduga meninggal dunia akibat keterlambatan transfusi darah.

Hadijah Uno (60), bibi Melanda, menjelaskan kronologi kejadian yang membuat keluarganya merasa dirugikan. 

Pada Selasa (26/11), Melanda dilarikan ke puskesmas setempat karena demam tinggi dan kemudian dirujuk ke RSUD Dunda Limboto.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin (HB) Melanda berada di bawah normal.

“Sekitar jam 11 malam, pihak rumah sakit meminta kami untuk mencari donor darah. Mereka menyebutkan butuh 8 hingga 10 kantong darah,” kata Hadijah saat dihubungi TribunGorontalo.com melalui panggilan telepon, Sabtu (30/11).

Keluarga berhasil mendapatkan dua kantong darah malam itu.

Namun, perawat bersikeras bahwa transfusi hanya bisa dilakukan jika tersedia delapan kantong darah sekaligus.

“Keesokan harinya, ketika kondisi Melanda sudah kritis, tiba-tiba mereka mengizinkan dua kantong darah itu digunakan. Tapi, saat darah tiba di rumah sakit, nyawa keponakan saya sudah tidak bisa diselamatkan,” tutur Hadijah.

Menurut Hadijah, prosedur yang berubah-ubah tersebut menjadi alasan utama kekecewaan keluarganya. 

Jikalau sedari awal dua kantong darah diperbolehkan untuk digunakan, mereka yakin Melanda mungkin bisa tertolong.

“Kami paham ini sudah takdir, tapi cara mereka menangani situasi ini sangat mengecewakan. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi di masa depan,” tandasnya.


Jangan Ketinggalan Berita Peristiwa hingga Info Menarik Lainnya, Yuk Ikuti Halaman Tribun Gorontalo

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved