Human Interest Story
Abubakar Kadir Setia jadi Pandai Besi Sekaligus Jualan Pisang, Apapun Asal Demi Cuan
Pria 44 tahun dengan sapaan Karim ini tidak hanya berjualan pisang, tetapi juga menjalankan usaha memahat besi untuk membuat pisau dapur.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Abubakar-N-Kadir-44-Penjual-Pisang-dan-Pandai-Besi-di-Kabupaten-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Abubakar N Kadir adalah sosok inspiratif yang menjalankan dua usaha di Gelanggang Olahraga (GOR) 23 Januari 1942.
Pria 44 tahun dengan sapaan Karim ini tidak hanya berjualan pisang, tetapi juga menjalankan usaha memahat besi untuk membuat pisau dapur.
Dua usaha ini ia jalankan beriringan di Desa Hulawa, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, lokasi Stadion bersejarah tersebut.
Saat ditemui oleh TribunGorontalo.com pada Jumat (8/11/2024), Karim berbagi kisah awal mula ia memulai usahanya.
“Awalnya, sebelum pandemi Covid-19 melanda, saya bekerja sebagai bawahan di usaha milik bos saya,” ujarnya.
Namun, pada 2021, Karim memberanikan diri untuk mandiri dengan membuka lapak pisang sendiri, yang mirip dengan pekerjaan yang ia geluti sebagai karyawan sebelumnya.
Selain berjualan pisang, Karim memiliki keahlian dalam memahat besi menjadi pisau dapur.
Dengan kemampuan ini, ia mampu menghasilkan tambahan penghasilan.
Meski pendapatannya dari kedua usaha ini tidak selalu besar, Karim tetap bersyukur karena ia bisa mengatur waktu kerja dengan lebih leluasa dan mandiri.
“Fleksibel, bisa dijalankan bersamaan,” ujarnya penuh semangat.
Sebagai ayah dari dua anak, Karim membuka lapaknya dari pagi hingga malam.
Khusus untuk usaha pisangnya, Karim mengaku bahwa momen paling ramai adalah saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Pada saat itu, banyak acara-acara, jadi pendapatan lebih tinggi,” jelasnya.
Karim menawarkan beragam jenis pisang kepada pelanggannya, mulai dari Pisang Robo, Pisang Gapi, Pisang Kepok, hingga Pisang Ambon.
Harga yang ia tawarkan juga bervariasi, berkisar antara Rp 11.000 hingga Rp 15.000 per sisir, tergantung jenis pisang yang dijual.
Sumber pasokan pisang untuk usahanya sebagian besar berasal dari pemasok lokal di Gorontalo, seperti dari daerah Paguyaman dan ada pula yang ia datangkan dari Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).
Karim mengaku menikmati proses dalam setiap langkah usahanya. (*)
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
| Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025 |
|
|---|