Festival Maleo Gorontalo
Bone Bolango Kembali jadi Pusat Festival Maleo Gorontalo, Target Masuk Event Nasional Kemenpar
Festival Maleo Gorontalo ke-3 ini menjadi momen penting bagi Bone Bolango untuk menegaskan komitmen dalam konservasi dan menghidupkan pariwisata berba
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Festival-Maleo-Gorontalo-kembali-digelar-di-Gorontalo-pada-pertengahan-November-2024.jpg)
Burung endemik Indonesia ini hanya bisa ditemukan di hutan tropis dataran rendah Pulau Sulawesi, seperti di wilayah Bone Bolango dan Pohuwato di Gorontalo, serta Sigi dan Banggai di Sulawesi Tengah. Juga ditemukan di Sulawesi Utara.
Habitat peneluran Maleo berhubungan dengan area berpasir yang hangat, seperti daerah pantai vulkanis atau tempat yang memiliki panas alami dari dalam bumi.
Lokasi-lokasi ini membantu proses inkubasi telur tanpa memerlukan pengeraman langsung oleh induk.
Namun, akibat perburuan dan konsumsi telur secara berlebihan, populasi Maleo mengalami penurunan drastis, yakni hingga 90 persen sejak tahun 1950-an.
Data dari Cagar Alam Panua di Gorontalo dan Tanjung Matop di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa jumlah Maleo terus berkurang setiap tahun akibat tingginya tingkat perburuan telur.
Setelah menetas, anakan Maleo langsung mampu menggali jalan keluar dari dalam tanah dan segera mencari perlindungan di dalam hutan.
Nutrisi tinggi dalam telur Maleo, yang lima kali lipat lebih kaya dibanding telur ayam, memberikan kekuatan bagi anak burung ini untuk terbang dan bertahan hidup sejak awal.
Mereka harus segera beradaptasi, mencari makan sendiri, dan menghindari pemangsa seperti ular, kadal, babi hutan, serta burung elang.(*)