Rabu, 25 Maret 2026

Festival Maleo Gorontalo

Bone Bolango Kembali jadi Pusat Festival Maleo Gorontalo, Target Masuk Event Nasional Kemenpar

Festival Maleo Gorontalo ke-3 ini menjadi momen penting bagi Bone Bolango untuk menegaskan komitmen dalam konservasi dan menghidupkan pariwisata berba

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Bone Bolango Kembali jadi Pusat Festival Maleo Gorontalo, Target Masuk  Event Nasional Kemenpar
BoneBol
Festival Maleo Gorontalo kembali digelar di Gorontalo pada pertengahan November 2024. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Suawawa -- Kabupaten Bone Bolango kembali menjadi pusat penyelenggaraan Festival Maleo Gorontalo yang memasuki tahun ketiga. 

Acara tahunan ini, yang digelar untuk memperingati Hari Maleo Sedunia di bulan November, bukan sekadar festival biasa.

Festival Maleo Gorontalo adalah langkah nyata untuk melestarikan burung Maleo, burung endemik Sulawesi yang terancam punah.

Lebih dari itu, Festival Maleo Gorontalo untuk mempromosikan pariwisata Bone Bolango ke tingkat nasional.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bone Bolango, Muhamad Yamin Abbas, menyatakan kebanggaannya bahwa Festival Maleo 2024 ini merupakan penyelenggaraan ketiga kalinya.

Ia berharap Festival Maleo menjadi agenda tahunan Kharisma Event Nusantara (KEN), platform pariwisata nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

"Jadi ini yang ketiga kalinya," ujar Yamin.

"Kami berharap acara ini diakui sebagai agenda tahunan tetap di KEN. Karena jika sudah terlaksana tiga kali berturut-turut, Festival Maleo berpeluang besar untuk diakui oleh KEN," tambahnya. 

Festival tahun ini diselenggarakan berkat kolaborasi yang kuat antara Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW), Wildlife Conservation Society (WCS), Perkumpulan Biodiversitas Gorontalo (BIOTA), dan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Gorontalo.

Acara utama festival ini akan dipusatkan di Danau Perintis, lokasi yang indah dan alami yang sangat cocok menjadi panggung utama bagi rangkaian kegiatan yang bervariasi.

Sejumlah kegiatan ada lomba dayung, lomba desain menggambar dan mewarnai Maleo, hingga acara simposium yang akan menghadirkan narasumber dari berbagai bidang.

Kepala Bidang Pariwisata, Yudiawan Maksum, yang juga merupakan PIC festival, menjelaskan bahwa acara ini lebih dari sekadar hiburan.

Di dalam workshop, akan dihadirkan para akademisi, pelaku industri pariwisata, dan organisasi non-pemerintah (NGO) dari Gorontalo serta narasumber dari Nimo Highland, Bandung.

Tujuan utamanya adalah untuk membangun pemahaman ilmiah tentang Maleo, serta mendiskusikan langkah konkret untuk pelestariannya.

“Dengan adanya workshop, kami ingin menghadirkan diskusi yang mendalam dan edukatif tentang Maleo, utamanya untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat, terutama generasi muda, terhadap pelestarian satwa endemik ini," kata Yudiawan.

Menariknya, malam kedua festival pada tanggal 16 November akan didedikasikan khusus untuk komunitas generasi Z (GenZI) Gorontalo.

Yudiawan menyebutkan bahwa partisipasi dari Gen Z ini bertujuan agar edukasi tentang Maleo menjadi lebih menarik dan tidak kaku, dengan format acara yang lebih kekinian dan relevan bagi generasi muda.

Danau Perintis, yang dijadikan lokasi utama festival, juga diharapkan dapat menjadi cikal bakal pelaksanaan Kharisma Event Nusantara pada tahun 2026 atau 2027 mendatang.

“Kami berharap, Festival Maleo ini dapat berkontribusi secara signifikan pada daya tarik pariwisata Bone Bolango, serta menjadi inspirasi untuk pelestarian satwa di Indonesia,” tambah Yudiawan.

Dengan rangkaian acara edukatif, kompetitif, dan atraktif, Festival Maleo 2024 tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestarian Maleo dan memperkuat identitas budaya serta kekayaan alam Bone Bolango di kancah nasional.

Maleo Senkawor

Burung maleo (Macrocephalon maleo) di kawasan konservasi Gorontalo(KOMPAS.com/IDHAM ALI)
Burung maleo (Macrocephalon maleo) di kawasan konservasi Gorontalo(KOMPAS.com/IDHAM ALI) (TribunGorontalo.com)

Maleo Senkawor atau dikenal dengan Maleo Panua oleh masyarakat Gorontalo, adalah burung khas Sulawesi yang unik dan langka.

Dengan nama ilmiah Macrocephalon maleo, burung berukuran sedang ini memiliki panjang tubuh sekitar 55 cm dan menjadi satu-satunya anggota dalam genus Macrocephalon.

Salah satu hal yang menakjubkan, anakan Maleo bisa langsung terbang sejak menetas—suatu kemampuan yang jarang ditemukan pada unggas lainnya.

Keunikan lain dari Maleo adalah ukuran telurnya yang sangat besar. Berat telur burung ini bisa mencapai 240 hingga 270 gram per butirnya, atau sekitar lima hingga delapan kali lebih besar dari telur ayam biasa, dengan panjang rata-rata mencapai 11 cm.

Namun, keistimewaan ini pula yang menjadikan Maleo rentan terhadap ancaman. Telur-telur Maleo kerap diburu manusia, menyebabkan populasinya terus menyusut hingga tersisa kurang dari 10.000 ekor di alam liar saat ini.

Ciri-Ciri Fisik dan Kehidupan Maleo

Maleo memiliki bulu hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kuning, dan iris mata merah kecokelatan.

Kaki burung ini berwarna abu-abu, paruhnya jingga, sementara bulu di bagian bawah tubuhnya berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat jambul hitam yang keras, memberikan ciri khas tersendiri. 

Maleo dikenal sebagai burung monogami, dengan pasangan yang serupa dalam penampilan, meskipun betina biasanya berukuran lebih kecil dan berwarna lebih gelap dibandingkan jantan.

Burung endemik Indonesia ini hanya bisa ditemukan di hutan tropis dataran rendah Pulau Sulawesi, seperti di wilayah Bone Bolango dan Pohuwato di Gorontalo, serta Sigi dan Banggai di Sulawesi Tengah. Juga ditemukan di Sulawesi Utara.

Habitat peneluran Maleo berhubungan dengan area berpasir yang hangat, seperti daerah pantai vulkanis atau tempat yang memiliki panas alami dari dalam bumi.

 Lokasi-lokasi ini membantu proses inkubasi telur tanpa memerlukan pengeraman langsung oleh induk.

Namun, akibat perburuan dan konsumsi telur secara berlebihan, populasi Maleo mengalami penurunan drastis, yakni hingga 90 persen sejak tahun 1950-an.

Data dari Cagar Alam Panua di Gorontalo dan Tanjung Matop di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa jumlah Maleo terus berkurang setiap tahun akibat tingginya tingkat perburuan telur.

Setelah menetas, anakan Maleo langsung mampu menggali jalan keluar dari dalam tanah dan segera mencari perlindungan di dalam hutan.

Nutrisi tinggi dalam telur Maleo, yang lima kali lipat lebih kaya dibanding telur ayam, memberikan kekuatan bagi anak burung ini untuk terbang dan bertahan hidup sejak awal.

Mereka harus segera beradaptasi, mencari makan sendiri, dan menghindari pemangsa seperti ular, kadal, babi hutan, serta burung elang.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved