Festival Maleo Gorontalo
Bone Bolango Kembali jadi Pusat Festival Maleo Gorontalo, Target Masuk Event Nasional Kemenpar
Festival Maleo Gorontalo ke-3 ini menjadi momen penting bagi Bone Bolango untuk menegaskan komitmen dalam konservasi dan menghidupkan pariwisata berba
Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Festival-Maleo-Gorontalo-kembali-digelar-di-Gorontalo-pada-pertengahan-November-2024.jpg)
Menariknya, malam kedua festival pada tanggal 16 November akan didedikasikan khusus untuk komunitas generasi Z (GenZI) Gorontalo.
Yudiawan menyebutkan bahwa partisipasi dari Gen Z ini bertujuan agar edukasi tentang Maleo menjadi lebih menarik dan tidak kaku, dengan format acara yang lebih kekinian dan relevan bagi generasi muda.
Danau Perintis, yang dijadikan lokasi utama festival, juga diharapkan dapat menjadi cikal bakal pelaksanaan Kharisma Event Nusantara pada tahun 2026 atau 2027 mendatang.
“Kami berharap, Festival Maleo ini dapat berkontribusi secara signifikan pada daya tarik pariwisata Bone Bolango, serta menjadi inspirasi untuk pelestarian satwa di Indonesia,” tambah Yudiawan.
Dengan rangkaian acara edukatif, kompetitif, dan atraktif, Festival Maleo 2024 tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak seluruh peserta dan masyarakat untuk berperan aktif dalam pelestarian Maleo dan memperkuat identitas budaya serta kekayaan alam Bone Bolango di kancah nasional.
Maleo Senkawor
Maleo Senkawor atau dikenal dengan Maleo Panua oleh masyarakat Gorontalo, adalah burung khas Sulawesi yang unik dan langka.
Dengan nama ilmiah Macrocephalon maleo, burung berukuran sedang ini memiliki panjang tubuh sekitar 55 cm dan menjadi satu-satunya anggota dalam genus Macrocephalon.
Salah satu hal yang menakjubkan, anakan Maleo bisa langsung terbang sejak menetas—suatu kemampuan yang jarang ditemukan pada unggas lainnya.
Keunikan lain dari Maleo adalah ukuran telurnya yang sangat besar. Berat telur burung ini bisa mencapai 240 hingga 270 gram per butirnya, atau sekitar lima hingga delapan kali lebih besar dari telur ayam biasa, dengan panjang rata-rata mencapai 11 cm.
Namun, keistimewaan ini pula yang menjadikan Maleo rentan terhadap ancaman. Telur-telur Maleo kerap diburu manusia, menyebabkan populasinya terus menyusut hingga tersisa kurang dari 10.000 ekor di alam liar saat ini.
Ciri-Ciri Fisik dan Kehidupan Maleo
Maleo memiliki bulu hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kuning, dan iris mata merah kecokelatan.
Kaki burung ini berwarna abu-abu, paruhnya jingga, sementara bulu di bagian bawah tubuhnya berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat jambul hitam yang keras, memberikan ciri khas tersendiri.
Maleo dikenal sebagai burung monogami, dengan pasangan yang serupa dalam penampilan, meskipun betina biasanya berukuran lebih kecil dan berwarna lebih gelap dibandingkan jantan.