Sabtu, 14 Maret 2026

Guru Pukul Murid

Bupati Konawe Selatan Copot Camat Baito di Tengah Kasus Viral Guru Menganiaya Murid

Apalagi, Bupati Surunuddin mengetahui bahwa Sudarsono, yang selama ini mendampingi guru Supriyani dalam proses hukum.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Bupati Konawe Selatan Copot Camat Baito di Tengah Kasus Viral Guru Menganiaya Murid
TribunNews
Camat dicopot bupati gara-gara guru viral aniaya murid. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Bupati Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara, Surunuddin Dangga, mencopot Camat Baito, Sudarsono Mangidi.

Tindakan ini diambil setelah kasus penganiayaan murid oleh seorang guru honorer di wilayah itu viral. 

Adapun pencopotan ini didasarkan pada kegagalan camat melaporkan perkembangan kasus kepada pimpinan.

Bupati baru mengetahui kasus ini setelah lebih dulu menyebar luas di media atau viral.

Apalagi, Bupati Surunuddin mengetahui bahwa Sudarsono, yang selama ini mendampingi guru Supriyani dalam proses hukum.

Karena itu, kelalaiannya tidak memberikan informasi yang cukup terkait kasus tersebut membuat bupati mencopotnya.

Kejadian ini akhirnya membuat bupati merotasi jabatan camat kepada Ivan Ardiansyah, yang juga menjabat sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Konsel.

Ivan diberi tugas untuk mengupayakan penyelesaian konflik yang kini menjadi isu panas di kalangan masyarakat Baito.

“Ini dua-duanya warga Baito. Supaya tidak terjadi ketegangan lebih lanjut, kita tarik Camat Baito untuk sementara. Saya tugaskan dari eselon II untuk membantu menyelesaikan konflik ini,” ujar Surunuddin di Rumah Jabatan Bupati Konsel, Selasa (29/10/2024).

Surunuddin menjelaskan bahwa keputusan ini bukan soal ketidakmampuan Camat Baito, tetapi lebih pada upaya untuk menjaga stabilitas dan kondusivitas wilayah menjelang Pemilukada.

“Kondisi sekarang memerlukan pejabat yang bisa memastikan netralitas,” jelasnya.

Terlebih, kondisi makin memanas setelah Sudarsono mengaku merasa terancam.

Ia melaporkan bahwa kendaraannya sempat mengalami kerusakan yang diduga disebabkan oleh teror.

Di samping itu, upaya mediasi perlu segera dilakukan agar kedua pihak yang bertikai, keluarga murid dan guru Supriyani, bisa mencapai kesepakatan damai.

Surunuddin menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki posisi netral dan memprioritaskan keamanan masyarakat.

“Langkah ini kami ambil bukan untuk memihak, tapi demi keamanan dan kenyamanan warga. Baik Supriyani maupun keluarga Aipda WH, keduanya sama-sama warga kita di Kecamatan Baito,” tambahnya.

Sidang ke-4 Guru Aniaya Siswa

Saat sidang ke-4 kasus guru honorer, Supriyani dituduh aniaya murid SDN 4 Baito kembali berlanjut, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (30/10/2024).

Dalam sidang ini, ibu korban turut menjadi saksi. Dalam kesaksiannya ia menerangkan dugaan penganiayaan guru honorer ini.

Sidang ke-4 berlangsung di PN Andoolo, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra), mulai 09.00 WITA.

Ibu korban menyebut kalau anaknya dipukul oleh sang guru, karena tak menulis saat diberi tugas.

"Dia sampaikan sambil menangis, kalau sudah dipukul sama Mama Alpa," kata korban saat dijelaskan ibunya saat persidangan.

"Mamanya Alpa itu siapa?" tanya sang ibu.

"Ibu Supriyani," jawab korban.

"Mas dipukul kenapa?" tanya ibu korban.

"Saya belum selesai menulis," jawan korban.

"Mas dipukul pakai apa?" tanya ibunya lagi menjelaskan saat sidang.

"Pakai sapu," singkat korban saat sang ibu membeberkan dugaan penganiayaan Supriyani.

Ibu korban juga membeberkan sejumlah rekan korban sempat melihat dugaan penganiayaan sang guru.

"Dia sebutkanlah beberapa nama. Saya datang ke rumah salah satu teman anak saya, untuk memastikan kebenaran," katanya.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved