Human Interest Story

Melki Hajarati, Penjual Kelapa dengan Omzet Rp 6 Juta per Bulan

Namun, di balik popularitas minuman ini, terdapat kisah inspiratif dari Melki Hajarati (36), seorang penjual kelapa muda yang dengan gerobak sederhana

|
Penulis: Syarifudin Madina | Editor: Wawan Akuba
FOTO: Syarifudin Madina, TribunGorontalo.com
Melki,Jualan es kelapa muda, di Jalan Prof, Dr. Aloe Saboe Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, Rabu (16/10/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Teriknya suhu Kota Gorontalo yang mencapai 35 derajat Celcius menjadikan es kelapa muda sebagai minuman segar yang banyak diburu warga.

Namun, di balik popularitas minuman ini, terdapat kisah inspiratif dari Melki Hajarati (36), seorang penjual kelapa muda yang dengan gerobak sederhananya mampu meraup omzet hingga jutaan rupiah setiap bulan.

Sejak tahun 2020, Melki berjualan es kelapa muda di depan Bengkel Gudang Aki 2, samping Taman Kren Moodu, Jalan Prof Dr. Aloe Saboe, Kelurahan Moodu, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo.

Bermodal awal Rp 2 juta, ia memulai usahanya dari membeli bahan-bahan hingga menyiapkan gerobak untuk berjualan.

"Saya terinspirasi dari keluarga yang juga berdagang, jadi saya ingin belajar cara berdagang dan memulai usaha ini," kata Melki saat diwawancarai.

Setiap hari, Melki berjualan dari pukul 08.00 hingga 17.30 WITA. Bahan utama, yaitu kelapa muda, ia beli langsung dari petani dengan harga Rp2.000 per butir.

Biasanya, ia membeli 80-100 butir kelapa yang habis terjual dalam 2-3 hari.

Selain kelapa muda, ia juga menambahkan gula merah racikan sendiri, susu, dan air kelapa untuk menyajikan es kelapa yang segar dan nikmat.

"Saya beli kelapa langsung dari pohon, tidak melalui perantara. Jadi, bahan selalu segar," ungkap Melki.

Selama empat tahun berjualan, Melki mengaku belum pernah mengalami kerugian.

"Kelapa bisa bertahan 5-6 hari sebelum busuk, tapi biasanya dalam 2 hari kelapanya sudah habis terjual," jelasnya.

Omzet yang diraih Melki bisa mencapai Rp4-6 juta per bulan, tergantung kondisi cuaca.

Saat cuaca panas, penjualannya meningkat pesat karena banyak orang yang mencari minuman segar.

Sebaliknya, saat hujan, penjualan agak sepi, meskipun tetap ada beberapa pelanggan yang datang.

"Kalau panas, pembeli banyak sekali. Tapi kalau hujan, ada sesekali yang beli," tambahnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved