Perempuan Inspiratif Gorontalo
Cerita Rahmiyati Pakaya, Remaja Gorontalo Tunda Cita-cita Sarjana demi Bekerja di Perantauan
Rahmiyati Pakaya (20) telah menjalani lika-liku hidup yang penuh dengan cobaan.
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Rahmiyati Pakaya (20) telah menjalani lika-liku hidup yang penuh dengan cobaan.
Wanita akrab disapa Nia ini telah kehilangan ayah dan ibunya.
Ibunya dipanggil Tuhan saat dirinya masih bersekolah.
Kemudian ketika ia merantau jauh dari rumah, Nia kehilangan ayah tercinta.
“Ibu meninggal saat Nia masih di bangku sekolah, papa meninggal saat Nia sedang bekerja jauh di perantauan,” kata Nia kepada TribunGorontalo.com, Jumat (11/10/24).
Meski kini ia telah menjadi yatim piatu, Nia tetap tegar menjalani hari-harinya.
Ia yakin bahwa di balik kesulitan pasti ada keindahan menantinya.
Kehidupan Nia berubah drastis ketika ibunya meninggal dunia saat dia masih bersekolah.
Kehilangan sosok ibu di masa muda belia memberikan dampak besar bagi psikologis Nia.
“Sedih sekali, berat sekali, tapi hidup harus terus berjalan,” lanjutnya.
Cobaan yang datang tidak berhenti di situ.
Sang ayah, yang merupakan satu-satunya orang tua yang ia miliki mengalami stroke.
Karena kondisi ini, ayah Nia tidak bisa lagi bekerja untuk menghidupi Nia dan kakak perempuannya, Nurul Pakaya.
Saat itu, Nia masih duduk di bangku SMA. Ia pun harus membantu ayahnya.
Setelah lulus dari SMA, Nia memutuskan untuk merantau ke Morowali, Sulawesi Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rahmiyati-Pakaya.jpg)