Perempuan Inspiratif Gorontalo
Cerita Rahmiyati Pakaya, Remaja Gorontalo Tunda Cita-cita Sarjana demi Bekerja di Perantauan
Rahmiyati Pakaya (20) telah menjalani lika-liku hidup yang penuh dengan cobaan.
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rahmiyati-Pakaya.jpg)
“Maunya tetap di Gorontalo, tapi bagaimana lagi, Nia harus kerja untuk menafkahi papa,” kata Nia.
Pada Juni 2023, Nia mulai bekerja sebagai kasir di bagian simpan pinjam Koperasi Mekar Jaya di Morowali.
Setiap kali menerima upah, ia selalu mengirimkan uang kepada ayahnya di kampung.
Meski jauh dari keluarga dan harus menanggung beban berat, Nia tidak pernah mengeluh.
Baginya, yang terpenting adalah kesehatan ayahnya dan keberlangsungan hidup mereka.
“Papa itu prioritas, soal diri Nia belakangan,”ujarnya.
Pada Maret 2024, sebuah kabar duka menghantam hati Nia.
Ayah yang sangat dia cintai meninggal dunia, sementara Nia masih berada di Morowali.
Kabar ini datang saat Nia masih berusaha mengurus kepindahannya ke Gorontalo.
Baca juga: Diah Thaib Mahasiswi Teknik Ukir Prestasi Taekwondo, Kini Tantang Diri di Ajang Nou Uti Gorontalo
Beberapa bulan sebelumnya, Nia sudah mengajukan permohonan pindah ke perusahaan, namun proses administrasi tersebut berjalan lambat.
Bahkan, ketika Nia mengajukan cuti untuk pulang dan menemani ayahnya yang sakit, cuti tersebut juga memakan waktu lama untuk disetujui.
Akibatnya, ketika ayahnya meninggal dunia, Nia tidak sempat mendampingi.
“Nia sudah menuju Gorontalo pukul 22.00 Wita dan papa meninggal pukul pukul 24.00 Wita, saat Nia sedang dalam perjalanan,” ujar Nia.
Perjalanan dari Morowali ke Gorontalo memakan waktu dua hari dua malam jika menggunakan bus.
Nia berharap bisa melihat jasad ayahnya untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan.