Human Interest Story
Cerita Atika Zakaria, Sosok Remaja Gorontalo Lestarikan Budaya Karawo Lewat Buku
Atika Zakari (23) sosok alumnus Universitas Negeri Gorontalo mengukir sejumlah prestasi.
Penulis: Nur Ainsyah Habibie | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Atika-Zakaria-sang-penulis-buku-karawo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Atika Zakari (23) sosok alumnus Universitas Negeri Gorontalo mengukir sejumlah prestasi.
Atika berhasil meraih IPK 3.73 membuatnya lulus dengan predikat terbaik (cumlaude).
Saat masih menjadi mahasiswa, Atika meraih juara 1 menulis puisi tingkat nasional, mengangkat tema Kemerdekaan.
Di kompetisi kampus, ia telah memenangkan sejumlah lomba seperti Karya Tulis Ilmiah, Tartil Al-Qur’an, Cerpen, bahkan Bisnis Plan tingkat nasional.
Selain itu, perempuan dengan jilbab syar’i itu dikenal sebagai penulis buku.
Pada tahun 2021, ia berhasil menerbitkan sebuah buku yang berjudul Karawo, yang memperoleh ISBN resmi.
Buku tersebut berisi penjelasan tentang seni dan budaya Karawo, kain tradisional khas Gorontalo.
Atika mengaku, menulis karawo merupakan salah satu upaya baginya untuk melestarikan budaya Gorontalo.
“Menulis buku Karawo adalah bentuk kontribusi saya untuk melestarikan budaya Gorontalo. Saya ingin orang-orang lebih mengenal dan menghargai Karawo,” jelas anak sulung dari dua bersaudara tersebut.
Tak tanggung-tanggung, Atika menyusun buku tentang karawo. Ia menulis selama tiga bulan menggunakan laptop yang dipinjamnya dari sepupu dan teman-temannya.
“Prosesnya tidak mudah karena saya harus meminjam laptop dari sepupu dan teman-teman untuk menulisnya.
"Selama tiga bulan, saya menyusun materi yang saya pelajari dan berusaha menyelesaikannya di tengah keterbatasan fasilitas,” ungkap Atika.
Kendati demikian, Atika tetap berhasil meraih berbagai macam pencapaian.
Salah satu pencapaiannya adalah lolos pendanaan wirausaha mahasiswa sebesar Rp20 Juta dan berhasil mengikuti KMI EXPO Bali, ajang bergengsi yang mengakui potensi wirausaha mahasiswa di Indonesia.
Tidak hanya sukses di bidang akademik, Atika juga unggul dalam berbagai kegiatan di luar perkuliahan.
Ia sempat terpilih sebagai Duta Palestina Gorontalo 2019 untuk kategori siswa.
Hal ini menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu kemanusiaan sejak usia muda.
“Menjadi Duta Palestina membuat saya lebih sadar tentang pentingnya kepedulian terhadap orang lain,” ujarnya.
Atika juga diketahui aktif dalam berbagai kegiatan organisasi.
Ia terlibat dalam LDK SKI UNG, sebuah organisasi keagamaan di kampusnya, serta KNRP, organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan.
Keterlibatannya dalam kedua organisasi ini tidak hanya mengasah kepemimpinannya, tetapi juga menumbuhkan rasa empati yang kuat terhadap orang lain.
Baca juga: Cerita Napi Lapas Boalemo Gorontalo, Pengalaman Perdana Baca Alquran Kekuatan untuk Berubah
Atika juga turut serta aktif dalam beberapa kegiatan bergengsi di kampus.
Adapun kegiatan-kegiatan tersebut, yakni Pilmapres 2022, P2MW, KMI EXPO Bali, dan berbagai kegiatan lainnya yang semakin memperkuat posisinya sebagai mahasiswi yang berprestasi dan berdedikasi.
Tak hanya aktif di dunia akademis dan organisasi, Atika juga mengembangkan usaha di bidang wirausaha.
Beberapa usaha yang ia geluti adalah memproduksi karawo, kain tradisional khas Gorontalo, serta aneka cemilan berbahan dasar pisang.
“Saya ingin melestarikan budaya Gorontalo, salah satunya dengan Karawo. Selain itu, cemilan-cemilan ini adalah inovasi yang saya coba kembangkan untuk menambah penghasilan,” kata Atika.
Keberhasilan Atika dalam dunia wirausaha tentunya tidak datang dengan mudah.
Ia harus berjuang keras dan mengikuti berbagai lomba serta program pendanaan untuk mendapatkan modal dalam berusaha.
Hal ini bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Atika sudah terbiasa hidup sederhana.
Penghasilan ayahnya sebagai tukang bentor dan penjual popcorn menjadi sumber pemasukan utama bagi keluarganya yang berada di Gorontalo.
Diketahui keluarga Atika terpisah secara geografis, Atika tinggal bersama ayahnya di Kota Gorontalo, sementara ibu dan adik laki-lakinya berada di Sulawesi Utara.
Hal tersebut tidak membuatnya patah arang.
“Bagi saya, hal itu justru menjadi motivasi. Saya ingin membuktikan bahwa keadaan ini tidak akan menghalangi saya untuk sukses,” ujar Atika dengan penuh keyakinan.
Di sela-sela produktivitasnya, Atika selalu menyempatkan diri untuk membantu sang ayah menjual popcorn di gerobak kecil di depan area pasar.
Ia mengaku senang dengan hal tersebut.
“Saya senang bisa membantu ayah, meskipun hanya dengan hal sederhana seperti ini,” ujarnya.
Aktivitas ini menjadi pengingat baginya tentang pentingnya kerja keras dan kebersamaan dengan keluarga.
Kini, Atika bekerja di Yayasan Insan Kamil Bone Bolango, sembari tetap mengembangkan usahanya.
Sebagai seseorang yang telah melalui berbagai tantangan, Atika tidak lupa memberikan pesan kepada generasi muda lainnya.
“Tetaplah melakukan hal-hal positif, jangan mudah terpengaruh oleh perkataan buruk orang lain. Jadikan setiap kritikan sebagai motivasi untuk terus berkembang,” pesan Atika kepada anak-anak muda yang ingin mengikuti jejaknya.
Di tengah segala keterbatasan ekonomi, fasilitas, dan tantangan hidup, Atika terus melangkah maju dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Di masa depan, Atika yakin bahwa jalan menuju kesuksesan masih terbentang luas.
Dengan usaha yang telah ia rintis dan mimpi yang ingin ia capai, Atika terus membawa semangat positif untuk dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
“Selama kita yakin dan mau berusaha, tidak ada yang tidak mungkin. Setiap mimpi pasti bisa diwujudkan,” tutupnya dengan senyuman.
Ikuti Saluran WhatsApp TribunGorontalo untuk informasi dan berita menarik lainnya
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.