G30S PKI
Mengenang G30S/PKI, Sejarah, Latar Belakang, Hingga Pahlawan yang Dibunuh di Lubang Buaya
Kisah 7 orang pahlawan Indonesia yang bertaruh nyawa untuk bangsa dan di masukkan ke lubang buaya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/cfdnhn.jpg)
Pasalnya, puncak akibat dari G30S/PKI itu terjadi tragedi pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat.
Simak inilah sejarah G30S/PKI yang perlu Sobat Wiki tahu:
Sejarah G30S/PKI
Terdapat beberapa tujuan dari peristiwa G30S PKI, seperti yang terdapat dalam buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum oleh Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini,
- Kudeta pemerintahan Soekarno
- Menghancurkan NKRI dan menjadikan Indonesia sebagai negara komunis
- Menyingkirkan TNI AD dan merebut kekuasaan pemerintahan
- Mengkomuniskan Indonesia dan mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis
- Mewujudkan cita-cita dari ideologi komunis yang akan membentuk pemerintah komunis
Latar Belakang G30S PKI
Dalam buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah), diterangkan gerakan 30 September 1964 berawal sejak Indonesia menetapkan sistem Demokrasi Terpimpin sejak diterbitkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959.
Dalam pelaksanaannya, konsep ini berkembang menjadi demokrasi dengan adanya pemusatan kekuasaan di tangan Presiden.
Sederet kebijakan yang dikeluarkan di masa Demokrasi Terpimpin memungkinkan PKI pimpinan D.N Aidit memperluas pengaruhnya.
PKI juga berhasil memanfaatkan peluang dari kondisi sosial, politik, dan ekonomi nasional yang tidak menentu.
Mulai dari membangun simpati masyarakat, terutama lapisan bawah yang selama ini mengalami tekanan berat.
Pada akhir 1963, PKI mulai gencar melakukan gerakan 'aksi sepihak' di Jawa, Bali dan Sumatera Utara.
Kader PKI mulai menghasut para petani mengambil alih tanah penduduk, terutama penduduk yang memiliki tanah luas.
Bahkan tak jarang kegiatannya diwarnai dengan tindakan kekerasan terhadap pemilik tanah, pegawai pemerintah dan pengurus perkebunan.
Aksi balasan pun dilakukan oleh kelompok anti-PKI hibgga menyebabkan kondisi makin tidak stabil.
Muncul kecurigaan dan persaingan hingga muncul desas-desua adanya Dewan Jenderal di Angkatan Darat.