Sabtu, 7 Maret 2026

G30S PKI

Kesaksian Ahli Forensik soal Korban G30S/PKI, 6 Jenderal Tewas Bukan karena Penyiksaan

Seorang ahli forensik, Dr Liauw Yan Siang, mengungkapkan fakta terkait kematian para jenderal dalam G30S/PKI.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Kesaksian Ahli Forensik soal Korban G30S/PKI, 6 Jenderal Tewas Bukan karena Penyiksaan
Kolase Kompas.com
G30S/PKI -- Kolase foto Dr Liauw Yan Siang dan enam jenderal korban G30S/PKI. Dr Liauw Yan Siang mengungkapkan fakta kematian para jenderal. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Seorang ahli forensik, Dr Liauw Yan Siang, mengungkapkan fakta terkait kematian para jenderal dalam Gerakan 30 September atau dikenal G30S/PKI.

Dr Liauw Yan Siang merupakan anggota tim dokter pernah ditugasi oleh Presiden Soekarno untuk melakukan autopsi terhadap jenazah enam jenderal dan satu perwira yang menjadi korban G30S/PKI.

Selama ini masyarakat Indonesia mengetahui para jenderal disiksa hingga tewas dan ditemukan di Lubang Buaya.

Hal itu dikarenakan adegan film Penumpasan Pengkhianatan G39S/PKI karya Arifin C Noer (1984).

Namun, dokter forensik justru mengemukakan fakta berbeda.

Dalam buku berjudul Tidak Ada Penyiksaan kepada Enam Jenderal (2015), Dr. Liauw Yan Siang, yang turut serta dalam tim otopsi, bersaksi bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada 4 Oktober 1965 tidak menemukan adanya tanda-tanda penyiksaan. 

"Kalau enggak ada luka tusuk, enggak ada luka iris, enggak ada cungkilan-cungkilan apa, mutilasi enggak ada, ya konklusi saya, ya enggak ada juga," katanya, dikutip dari Kompas.com (2022).

Dr. Liauw hanya menemukan adanya luka benda tumpul pada jenazah, yang ia sendiri tidak tahu penyebab pastinya.

Luka ini kemudian dikonfirmasi oleh dokumen otopsi sebagai akibat trauma berat, bukan sayatan atau siksaan.

Dokumen otopsi para jenderal, yang dilampirkan sejarawan Ben Anderson dalam jurnalnya "How Did The Generals Die?", menguatkan bahwa tidak ada keterangan yang menunjukkan penyiksaan.

Luka robek dan patah tulang pada korban dijelaskan sebagai trauma benda tumpul berat.

Kondisi buruk pada mata salah satu jenazah juga disebabkan oleh lamanya jenazah terbaring di dasar kubur yang lembap.

Dr Liauw Yan Siang juga mengungkapkan bahwa desas-desus mengenai penganiayaan dan penyiksaan para jenderal sudah beredar luas sebelum otopsi selesai.

Presiden Soekarno bahkan secara khusus meminta hasil otopsi diserahkan secepat mungkin.

Permintaan tersebut bertujuan untuk membuktikan bahwa tuduhan penganiayaan tidak benar dan menentang desas-desus yang beredar, yang kemudian disampaikan Soekarno melalui pidato atau pengumuman.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Sabtu, 07 Maret 2026 (17 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:11
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved