Zona Perang
Rusia Mewanti-wanti Amerika Serikat tak Izinkan Ukraina Gunakan Rudal Storm Shadow
Menurutnya, izin penggunaan drone bernama Storm Shadow tersebut dapat meningkatkan eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Rudal-Storm-Shadow-yang-ditakuti-Rusia.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Rusia, Vladimir Putin, memperingati Amerika Serikat untuk tak mengizinkan Ukraina pakai drone jarak jauh.
Menurutnya, izin penggunaan drone bernama Storm Shadow tersebut dapat meningkatkan eskalasi perang antara Rusia dan Ukraina.
Artinya, menurut Rusia bahwa izin yang nanti diberikan Amerika Serikat (AS) dapat menjadi sinyal perang.
Pernyataan ini semakin meningkatkan ketegangan antara Rusia dan NATO.
Berbicara kepada media pemerintah, Putin menegaskan bahwa penggunaan rudal buatan Inggris tersebut oleh Ukraina akan mengubah sifat konflik dan meningkatkan risiko bagi negara-negara Barat.
Ia juga memperingatkan bahwa langkah ini bisa memicu konfrontasi langsung dengan NATO.
"Ini akan berarti bahwa negara-negara NATO, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa sedang berperang dengan Rusia," tegas Putin.
Ada indikasi bahwa Amerika Serikat dan Inggris mungkin segera mencabut pembatasan penggunaan rudal Storm Shadow oleh Ukraina.
Laporan menunjukkan bahwa masalah ini menjadi topik utama dalam pertemuan antara menteri luar negeri AS dan Inggris dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di Kyiv, yang memungkinkan Ukraina untuk menyerang sasaran di dalam wilayah Rusia.
Sergei Markov, mantan penasihat Putin, dalam wawancara dengan LBC’s Tonight with Andrew Marr, mengungkapkan bahwa Rusia bisa membalas dengan menargetkan lapangan udara NATO jika rudal Storm Shadow digunakan.
"Rusia akan menyerang lapangan udara tempat F-16 ditempatkan," ujar Markov, menambahkan bahwa serangan tersebut mungkin terjadi di Rumania dan Polandia, bukan di Ukraina.
Putin kembali menegaskan bahwa penggunaan rudal ini akan "mengubah sifat konflik," dan memperingatkan bahwa Rusia akan mengambil "keputusan yang tepat" berdasarkan ancaman yang berkembang.
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, ke Washington untuk bertemu dengan Presiden AS, Joe Biden.
Sementara itu, Ukraina terus melancarkan serangan di wilayah yang diduduki Rusia, sementara Zelenskyy terus mendesak Barat untuk memberikan dukungan militer lebih lanjut.
Konflik ini juga dibarengi dengan serangan roket intensif dari Rusia, termasuk serangan rudal yang menewaskan tiga pekerja Palang Merah.