Human Interest Story

Segarnya Es Kelapa Muda di Tepi Sawah Bone Bolango Gorontalo dan Kisah Pak Agus

Bagi sebagian besar masyarakat, minuman ini bukan hanya pelepas dahaga, tapi juga teman setia saat cuaca panas mendera.

Penulis: Faisal Husuna | Editor: Wawan Akuba
Getty
Membayar tunas dahaga denan kelapa Muda Bone Bolango, 

TRIBUNGORONTALO.COM, Bone Bolango -- Di tengah teriknya siang di Gorontalo, ada satu hal yang selalu bisa menarik perhatian warga—es kelapa muda.

Bagi sebagian besar masyarakat, minuman ini bukan hanya pelepas dahaga, tapi juga teman setia saat cuaca panas mendera.

Sebuah tempat yang kerap dikunjungi untuk menikmati segarnya es kelapa muda adalah warung sederhana milik Agus (68), seorang penjual yang kini menjadi ikon kecil di Jalan Bay Pas Bone Bolango.

Warungnya tak begitu besar, namun lokasinya strategis—berada di tepi sawah yang hijau membentang, memberi kesan damai bagi siapa pun yang singgah.

Terik matahari seolah sirna begitu segelas es kelapa muda tersaji, ditemani pemandangan hamparan sawah yang menenangkan hati.

Riski (27), seorang mahasiswa, adalah salah satu pelanggan setia Pak Agus.

Setiap kali perjalanan pulangnya dari kampus bertepatan dengan siang terik, Riski tak pernah melewatkan kesempatan untuk mampir.

"Kalau pulang dari kampus siang hari, saya pasti mampir minum. Di sini sejuk, pemandangannya juga bagus, dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah," ucapnya sambil tersenyum, menikmati segelas es kelapa muda.

Bagi Riski dan banyak pelanggan lainnya, kehadiran Pak Agus bukan sekadar penyedia minuman.

Tempat jualannya telah menjadi persinggahan yang menawarkan sejuknya alam dan keramahan sang penjual, membuat orang-orang merasa lebih dari sekadar pembeli.

Pak Agus sendiri tak pernah menyangka bahwa warung sederhananya bisa berkembang sejauh ini.

Awalnya, dia berjualan di Pasar Sentral Kota Gorontalo. Namun, saat pasar tersebut direnovasi, pelanggannya perlahan mulai berkurang.

Kondisi ini membuatnya harus berpikir keras untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tak ingin menyerah, pada tahun 2019, Pak Agus memutuskan pindah ke lokasi yang sekarang. Tepi sawah itu ternyata membawa keberuntungan baru baginya.

Dengan omset yang bisa mencapai Rp 1 juta di hari-hari ramai, Pak Agus tak bisa menahan rasa syukur.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved