Human Interest Story
Cerita Nelayan Tuna Gorontalo Mengarungi Lautan Sejak 90-an
Mereka bisa menghabiskan berhari-hari di laut lepas, menunggu hasil tangkapan yang akan dijual ke Tempat Pelelangan Ikan di Kelurahan Tenda.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mohammad-Farma-nelayan-ikan-tuna-di-Gorontalo-saat-ditemui-TribunGorontalocom-Rabu-2882024.jpg)
Akibatnya, frekuensi melautnya pun berkurang dari satu bulan penuh menjadi hanya dua minggu dalam sebulan.
"Sekarang satu bulan satu kali, ikan semakin sulit ditemukan," keluhnya dengan nada kecewa.
Cuaca dan kondisi ombak yang semakin sulit diprediksi menjadi salah satu penyebab utama menurunnya hasil tangkapan.
Meski demikian, Farma tetap mempertahankan harga ikan tuna di level normal, yaitu Rp 45 ribu per kilogram.
Bagi Farma, setiap hari di laut adalah perjuangan demi keluarga. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Dengan semangat yang tak pernah padam, ia terus berupaya mencari nafkah, meski di tengah ketidakpastian dan kesulitan yang terus menghampiri. (*)