Human Interest Story
Cerita Nelayan Tuna Gorontalo Mengarungi Lautan Sejak 90-an
Mereka bisa menghabiskan berhari-hari di laut lepas, menunggu hasil tangkapan yang akan dijual ke Tempat Pelelangan Ikan di Kelurahan Tenda.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mohammad-Farma-nelayan-ikan-tuna-di-Gorontalo-saat-ditemui-TribunGorontalocom-Rabu-2882024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Mohammad Farma, seorang nelayan tuna berusia 50 tahun, sudah berpuluh tahun melaut di perairan Gorontalo.
Di tengah terjangan ombak dan cuaca yang tidak bersahabat, Farma terus mengarungi lautan sejak awal 1990-an.
Dengan tekad dan semangat, ia terus melanjutkan tradisi keluarganya di tengah kerasnya kehidupan laut.
Di masa awal kariernya, Farma melaut dengan kapal kecil, hanya didampingi dua rekannya.
Mereka bisa menghabiskan berhari-hari di laut lepas, menunggu hasil tangkapan yang akan dijual ke Tempat Pelelangan Ikan di Kelurahan Tenda.
"Saat itu, kami bertahan hanya dengan sedikit alat dan modal seadanya," kenangnya.
Kini, situasinya telah berubah drastis. Farma, bersama 25 rekannya, kini melaut menggunakan kapal yang jauh lebih besar.
Dengan kapal ini, mereka bisa berada di lautan selama berminggu-minggu.
"Kadang 3 minggu sampai satu bulan baru balik kesini, tergantung cuaca dan hasil tangkapan," ujarnya.
Area terjauh yang pernah dijangkaunya termasuk Perairan Sulawesi Tengah, Palu, dan Kendari.
Dalam sekali melaut, Farma pernah mendapatkan ikan tuna dengan berat sekitar tiga kilogram sebanyak 60-70 ekor.
"Hasilnya lumayan," tambahnya.
Selama bertahun-tahun berjuang di tengah lautan, Farma tak hanya berburu ikan untuk nafkah keluarga. Dia juga menghadapi berbagai tantangan.
“Pernah kami kehabisan bahan makanan di tengah laut. Kami harus meminta bantuan dari kapal lain. Ada juga momen minyak goreng tumpah, beras terendam air laut, dan beras yang tumpah ke laut,” ceritanya dengan penuh warna.
Namun, akhir-akhir ini, Farma merasakan perubahan signifikan. Hasil tangkapannya menurun drastis. Sekali melaut, jumlah ikan yang didapat hanya sekitar 6-7 ekor dengan berat 1,5-2 kilogram.
Akibatnya, frekuensi melautnya pun berkurang dari satu bulan penuh menjadi hanya dua minggu dalam sebulan.
"Sekarang satu bulan satu kali, ikan semakin sulit ditemukan," keluhnya dengan nada kecewa.
Cuaca dan kondisi ombak yang semakin sulit diprediksi menjadi salah satu penyebab utama menurunnya hasil tangkapan.
Meski demikian, Farma tetap mempertahankan harga ikan tuna di level normal, yaitu Rp 45 ribu per kilogram.
Bagi Farma, setiap hari di laut adalah perjuangan demi keluarga. Ia tinggal bersama istri dan kedua anaknya di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
Dengan semangat yang tak pernah padam, ia terus berupaya mencari nafkah, meski di tengah ketidakpastian dan kesulitan yang terus menghampiri. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.