Tahanan Tewas di Lapas Gorontalo
Depresi Idap Penyakit TBC Kelenjar, Warga Binaan Lapas Gorontalo Akhiri Hidup
Faktor warga binaan Lapas Kelas IIA Gorontalo mengakhiri hidup akhirnya terkuak.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Konferensi-Pers-Lapas-kelas-II-A-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Faktor warga binaan Lapas Kelas IIA Gorontalo mengakhiri hidup akhirnya terkuak.
Pria bernama Yanto Radiasak itu diketahui depresi mengidap penyakit Tuberculosis (TBC) kelenjar.
Peristiwa bunuh diri itu terjadi pada Minggu (11/8/2024).
Kala itu, para warga binaan pemasyarakatan sedang salat isya.
Kepala Lapas II A Gorontalo, Indra Mokoagow, mengungkapkan korban ditemukan gantung diri di toilet.
Jasad Yanto pertama kali dilihat oleh petugas lapas.
Sejatinya Yanto masih hidup ketika ditemukan petugas. Namun denyut nadinya sudah pelan, napasnya pun tersengal-sengal.
Yanto sempat dirawat di linik Lapas Kelas IIA Gorontalo. Akan tetapi, kondisinya memburuk. Ia pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.
"Korban ditemukan masih ada tanda-tanda kehidupan, maka malam itu juga kita larikan ke rumah sakit," kata Indra kepada wartawan, Rabu (14/8/2024).
Yanto menghembuskan nafas terakhir di perjalanan menuju rumah sakit.
Indra menjelaskan, Yanto membuat tali dari sarung yang dirobek kemudian dililit hingga menyerupai tali.
Yanto masuk Lapas IIA Gorontalo pada 2022. Ia tersandung kasus pembunuhan mertua, juga percobaan pembunuhan istri.
Sejak masuk ke lapas, Yanto mengidap penyakit TBC kelenjar.
Pengobatannya sejak September 2023 terus berlanjut hingga sekarang.
Sebelum ditemukan tewas, Yanto sempat meminta dipindahkan ke lapas Kabupaten Boalemo.