Human Interest Story
Perjuangan Don Abas Menghargai Kemerdekaan RI, Beralih dari Kuli jadi Penjual Bendera Merah Putih
Don S. Abas, atau lebih dikenal dengan Udo, adalah seorang pria berusia 45 tahun yang setiap bulan Agustus, mengubah rutinitasnya dari kuli bangunan m
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Penjual-Aksesori-Kemerdekaan-di-Jl-HB-Jassin-Kota-Gorontalo-Senin-0582024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Di persimpangan Jalan HB Jassin, Kota Gorontalo, terdapat sosok yang menonjol di tengah hiruk-pikuk lalu lintas.
Don Abas, atau lebih dikenal dengan Udo, adalah seorang pria berusia 45 tahun yang setiap bulan Agustus, mengubah rutinitasnya dari kuli bangunan menjadi penjual aksesori kemerdekaan.
Di balik kesederhanaan penampilannya, terdapat cerita yang menginspirasi. Bagi Udo, bulan Agustus bukan hanya sebuah periode di kalender, melainkan momen penting untuk "istirahat" dari pekerjaan utamanya.
Baca juga: Fix! Pelantikan DPRD Boalemo Akan Dilaksanakan di Tanggal Ini, Perlengkapan 75 persen
"Ini adalah waktu istirahat saya dari bekerja sebagai buruh bangunan. Saya beralih ke berjualan aksesori kemerdekaan sebagai bentuk perubahan," ungkap Udo dengan nada penuh semangat.
Setiap pagi hingga sore, Udo berdagang di lokasi strategis, di mana terik matahari dan guyuran hujan menjadi teman setianya.
Dagangannya terdiri dari bendera merah putih kecil untuk kendaraan dan bendera tempel untuk mobil, yang ia jual dengan harga mulai dari sepuluh ribu rupiah.
Baca juga: Cerita Cindradewi Tangahu Berjuang Demi Pulihkan Pendengaran Anak
Meskipun keuntungan dari setiap bendera tidak besar, berkisar antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000, Udo menyukai proses tawar-menawar dengan pelanggan.
"Negosiasi membuat saya bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang-orang dan memastikan dagangan saya laku cepat," jelasnya.
Keberanian Udo untuk berjualan aksesori kemerdekaan bukan sekadar untuk mencari nafkah.
Ia tinggal di Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, dan harus menempuh perjalanan setengah jam setiap hari untuk mencapai lokasi jualannya.
"Saya memulai berjualan pada 28 Juli dan akan berakhir pada 16 Agustus, sehari sebelum Hari Kemerdekaan. Pembeli sering menurun menjelang hari H karena banyak yang sudah melakukan persiapan acara," tambahnya.
Di luar kegiatan jualannya, Udo juga memiliki tanggung jawab besar sebagai seorang ayah. Ia tengah mempersiapkan anaknya yang akan melanjutkan pendidikan tinggi.
Hasil dari penjualannya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan persiapan kuliah anaknya.
"Satu anak saya sudah siap untuk kuliah, sementara yang satunya masih di SD. Saya berharap dengan usaha ini, saya bisa membantu mendaftarkan anak saya ke universitas di Provinsi Gorontalo," katanya dengan penuh harapan.
Dalam perjalanannya, Udo tidak hanya berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menunjukkan dedikasi dan pengorbanan seorang ayah yang ingin memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Kisah Udo adalah contoh nyata dari keberanian dan tekad untuk menghadapi tantangan hidup sambil berkontribusi pada perayaan kemerdekaan.(*)
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
| Sosok Abdul Gias Tomayahu, Penulis Muda Asal Leboto Gorontalo Peraih 4 Medali Emas Nasional 2025 |
|
|---|