Update Kabar Dunia

Serangan Udara Bom FAB-3000 Rusia Hancurkan Markas Sementara Ukraina

Berat bom ini sekitar 3.000 kilogram [perkiraan 6.614 pon], menjadikannya salah satu bom terberat di gudang senjata Rusia. FAB-3000 menggunakan bahan

Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
Tangkapan layar video
FAB-3000 adalah bom udara berdaya ledak tinggi yang dikembangkan oleh Rusia. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Kru pesawat tempur Su-34 melancarkan serangan menggunakan bom FAB-3000 ke markas sementara Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah tanggung jawab grup Sever.

Serangan ini berhasil dilakukan menggunakan bom penerbangan FAB-3000 yang dilengkapi dengan modul perencanaan dan koreksi universal.

"Setelah misi selesai dengan sukses, kru pesawat kembali dengan selamat ke pangkalan mereka. Tindakan kontrol obyektif mengkonfirmasi target telah dihancurkan," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Federasi Rusia dalam rilis pers mereka.

Baca juga: MiG-31 yang Dimodernisasi Dikirim ke Pangkalan Tetap, Tingkatkan Kemampuan Pertahanan Udara Rusia

Video tersebut menunjukkan Su-34 saat peluncuran bom FAB-3000. Saat bom dilepaskan dari penjepit badan pesawat, perangkat terintegrasi bom tersebut akan membentangkan sayap, memutar bom 180 derajat untuk menempatkan sayap di atas bodinya.

Video selanjutnya menunjukkan dampak bom tersebut pada sebuah bangunan di daerah pemukiman.

"Sulit membayangkan target yang bisa menahan bom udara sebesar ini."

Tentang FAB-3000

FAB-3000 adalah bom udara berdaya ledak tinggi yang dikembangkan oleh Rusia.

Bom ini termasuk dalam seri bom FAB, yang dirancang untuk digunakan oleh Angkatan Udara Rusia.

FAB merupakan singkatan dari "Fugasnaya Aviatsionnaya Bomba," yang diterjemahkan menjadi "Bom Udara Berdaya Ledak Tinggi" dalam bahasa Indonesia.

Dimensi FAB-3000 tergolong besar, sesuai dengan perannya sebagai bom berat.

Panjangnya sekitar 4,5 meter [perkiraan 14,8 kaki] dan diameter sekitar 0,6 meter [perkiraan 2 kaki].

Berat bom ini sekitar 3.000 kilogram [perkiraan 6.614 pon], menjadikannya salah satu bom terberat di gudang senjata Rusia.

FAB-3000 menggunakan bahan peledak berdaya ledak tinggi.

Bahan peledak ini dirancang untuk menghasilkan ledakan kuat saat diledakkan, membuat bom ini sangat efektif terhadap berbagai target, termasuk bangunan berbenteng, bunker, dan konsentrasi besar pasukan musuh.

Komposisi pasti dari bahan peledak bisa berbeda-beda, tetapi biasanya merupakan campuran TNT dan bahan peledak tinggi lainnya.

Daya ledak FAB-3000 sangat besar mengingat ukurannya yang besar dan bahan peledak berdaya ledak tinggi.

Saat diledakkan, bom ini dapat menghasilkan ledakan besar, yang mampu menyebabkan kerusakan parah di area yang luas.

Radius ledakan bisa mencapai ratusan meter, dan gelombang kejut yang dihasilkan oleh ledakan dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada bangunan, infrastruktur, dan peralatan militer.

Bom ini dirancang untuk menembus dan menghancurkan target yang sangat dibentengi, menjadikannya senjata yang tangguh dalam persenjataan militer Rusia.

Sebelumnya diketahui ketegangan antara Rusia dan Ukraina semakin memanas pada 21 Februari 2022.

Rusia menyatakan bahwa fasilitas perbatasan mereka diserang oleh pasukan Ukraina, yang mengakibatkan kematian lima pejuang Ukraina.

Namun, Ukraina dengan cepat membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai "operasi bendera palsu" (operasi yang dibuat untuk mengkambinghitamkan pihak lain).

Di hari yang sama, dalam sebuah langkah kontroversial, Rusia mengumumkan pengakuan resmi atas wilayah Donetsk People's Republic (DPR) dan Luhansk People's Republic (LPR) yang memproklamirkan diri sendiri.

Menariknya, menurut Presiden Rusia Putin, pengakuan ini mencakup seluruh wilayah Ukraina.

Setelah deklarasi ini, Putin mengirim satu batalyon pasukan militer Rusia, termasuk tank, ke wilayah tersebut.

Situasi terus memanas hingga akhirnya pada 24 Februari 2022, dunia dikejutkan oleh serangan militer besar-besaran.

Dipimpin oleh Angkatan Bersenjata Rusia yang sudah dikerahkan di perbatasan Ukraina, serangan ini bukanlah tindakan spontan melainkan aksi yang disengaja.

Meskipun situasinya tampak seperti perang, pemerintah Rusia menghindari penggunaan istilah tersebut. Mereka lebih memilih menyebutnya sebagai "operasi militer khusus." (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved