Senin, 16 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Nenek Dako, Penjual Nasi Kuning di Kota Gorontalo, Sehari Dapat Rp 200 Ribu

Cerita Nenek Dako (65) yang berjualan nasi kuning selama 6 tahun di Jalan Brigjen Piola Isa, Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Goront

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Cerita Nenek Dako, Penjual Nasi Kuning di Kota Gorontalo, Sehari Dapat Rp 200 Ribu
TRIBUNGORONTALO/YANTI KONE
Gerobak nasi kuning nenek Dako (65) di Jalan Brigjen Piola Isa, Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM - Cerita Nenek Dako (65) yang berjualan nasi kuning selama 6 tahun di Jalan Brigjen Piola Isa, Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo

Nenek Dako berjualan nasi kuning di gerobak samping Alfamart Piola Isa.

"Saya sudah 6 tahun lebih berjualan nasi kuning di Gorontalo ini," ujarnya kepada TribunGorontalo.com, pada Jumat (05/07/2024)

Nenek Dako menceritakan modal awal berjualan nasi kuning dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil merantau dari Sulawesi Tengah. Setelah terkumpul akhirnya dia memutuskan untuk membeli gerobak dan bahan untuk membuat nasi kuning.

"Saya membeli gerobak yang awalnya dijual Rp 2 juta menjadi Rp 800 ribu, lalu membeli beras perkoli, telur 2 bak,ikan dan bahan rempah lain dengan jumlah lebih untuk dijadikan stok".

Kata nenek Dako, bahan yang digunakan untuk membuat nasi kuning masih menggunakan santan asli.

"Saya tetap menggunakan kelapa parut untuk dijadikan santan karena lebih disukai pembeli dibandingkan menggunakan santan instan," jelasnya.

Nenek Dako menjual nasi kuning dengan harga Rp 5 ribu dan telur dengan harga Rp 3 ribu.

Dia mengaku tidak mempunyai anak sedangkan suaminya meninggal sudah cukup lama.

"Saya tidak memiliki anak, dan suami saya meninggal sudah lama, saya lupa tahun berapa tetapi beliau meninggal tepat 1 Muharam," ungkapnya

Tak hanya menjual nasi kuning, Warga Kelurahan Dulomo Selatan itu juga menjual gorengan yang sudah digoreng dari rumah.

"Untuk gorengan seperti tahu,bakwan dan pisang goreng itu punya adik saya, hanya dititip di sini untuk pagi hari dan untuk sore hari digoreng langsung di lapak".

Penghasilan untuk berjualan nasi kuning tidak menentu, tergantung dari banyaknya pembeli.

"Kadang saya menghasilkan Rp150.000 sampai Rp200.000 per hari dan mendapat lebih jika ada pesanan untuk acara," katanya

Nenek berjualan setiap hari dari pukul 6 pagi sampai pukul 10 siang, dan buka kembali setelah ashar sampai jam 10 malam. (*/Yanti Kone)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved