Human Interest Story
Cerita Kakek Suwardi, Sudah 40 Tahun Jadi Penjual Pepaya di Gorontalo
Cerita kakek Suwardi Matungga (65) penjual pepaya di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Suwardi-Matungga-65-penjual-buah-pepaya-keliling-99000.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Cerita kakek Suwardi Matungga (65) penjual pepaya di Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Kakek Suwardi Matungga sudah berjualan buah pepaya sejak tahun 1980-an atau 40 tahun
Opa Wardi, panggilan akrabnya, mengaku sudah berjualan sejak usia 25 tahun setelah mendapatkan kendaraan baru.
Saat itu dia mendapatkan sepeda pemberian kerabatnya pada 1984.
Sejak saat itulah, Wardi memulai untuk usaha dengan berjualan buah-buahan dengan cara mengitari Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango menggunakan sepeda
Warga Bulango Utara ini bahkan pernah berkeliling 10 kilometer dari rumahnya untuk menjual pepaya.
Opa Wardi mengatakan sudah menguasai jalanan di Kabupaten Bone Bolango dan Kota Gorontalo.
"Kadang pisang, kadang pepaya, kadang milu, tidak menetap sih," lanjutnya.
Buah-buahan yang dijualnya pun bukan hasil milik perkebunan sendiri, melainkan dipasok dari para pedagang di pasar lalu dijual kembali.
Segala upaya dilakukan bapak lima anak ini demi menghidupi keluarga kecil.
"Kalau tidak jualan yah tidak makan," lanjutnya.
Namun, keuntungan yang didapatinya pun tidak seberapa, tergantung pada berapa banyak pembeli dagangannya di hari itu.
Katanya, kalau dagangannya masih tersisa ia akan membawanya pulang dan dijual pada keesokan harinya.
Dia rela mengitari Bone Bolango dan Kota Gorontalo dengan mengayuh sepeda ontelnya dengan beban sekira 30 kilogram tiap harinya.
"Pepaya yang saya bawa ini mungkin ada 30-an kilogram," ucapnya.
Maka tak heran, diusianya yang menginjak renta ini mulai diserang dengan penyakit, di antaranya reumatik.
Katanya, dia kerap merasakan sakit disekujur kakinya ketika sedang mengitari KBone Bolango dan Kota Gorontalo.
Akan tetapi, ia tetap berjualan dengan demi menghidupi anak isterinya.
"Saya setiap hari itu, asal sudah mendapat uang Rp 50 ribu, saya kira sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari," tutur Suwardi.
Saat ditemui TribunGorontalo.com, Suwardi tampak sedang beristirahat di tempat pangkalan biasanya.
Dirinya biasa mangkal di Jalan Jendral Soedirman, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo pada saat siang hari.
"Saya tidak langsung dari rumah ke sini, tapi masih memutar dulu, sekitaran jam 12.00 baru saya ke sini," imbuhnya.
"Sebelum saya berangkat, saya pilihin dulu buah-buah yang masih layak dan cocok buat dijual," lanjutnya.
Pepaya yang dijual bervariatif harganya, tergantung ukuran. Rp 10 ribu untuk yang berukuran sedang dan Rp 15 ribu yang berukuran besar.
Dari satu buah pepaya, Suwardi kerap mendapatkan untung sebanyak Rp 5 ribu.
"Alhamdulillah," tutupnya.(*)
| Sosok Cindy Sakila Dauda, Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter di Gorontalo |
|
|---|
| Polisi Muda di Gorontalo Ini Jualan Siomay Pakai Bentor, Omzet Bisa Jutaan per Malam |
|
|---|
| Sri Muliani Dama, Mahasiswi Gorontalo yang Tekuni Literasi hingga Jadi Ketua Senat Mahasiswa |
|
|---|
| Ajoeba Wartabone dan Jurnalisme Kebangsaan di Masa Revolusi Indonesia |
|
|---|
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.