Human Interest Story
Cerita Rayyan Kufri, Gemar Baca Buku sejak SMP, Kini Jadi Penanggung Jawab Komunitas Literasi
Cerita Mohamad Rayyan Kufri, Penanggung Jawab komunitas literasi, Gorontalo Book Party (GBP).
Penulis: Rafiqatul Hinelo | Editor: Ponge Aldi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Mohamad-Rayyan-Kufri-8899.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Cerita Mohamad Rayyan Kufri, Penanggung Jawab komunitas literasi, Gorontalo Book Party (GBP).
Rayyan saat ini adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas Negeri Gorontalo. Di UNG, ia sedang menekuni ilmu Pendidikan Bahasa Inggris.
Sebagai seorang mahasiswa, Rayyan tampak memiliki semangat membaca yang tinggi.
"Kala itu, Gorontalo Book Party rupanya belum memiliki pengurus, dan dibuka kesempatan kepada siapa saja yang tertarik mengambil peran itu," ungkap Rayyan kepada TribunGorontalo.com.
Rayyan menceritakan bahwa awal terbentuk Gorontalo Book Party diwadahi oleh Rumah Literasi Gorontalo (RLG).
Gorontalo Book Party sendiri merupakan bagian dari Indonesia Book Party.
Jadi, komunitas ini adalah komunitas literasi yang memiliki jaringan secara nasional.
Rayyan bersyukur RLG membuka pintu kesempatan baik ini untuk masyarakat Gorontalo.
Ada hal menarik di balik kegembiraan Rayyan dengan hadirnya GBP di Gorontalo.
"Beberapa waktu sebelum RLG menghadirkan GBP di sini, saya sudah sempat memiliki niat yang sama,"
"Bahkan, saya sudah melakukan beberapa langkah nyata untuk membuka cabang komunitas ini di Gorontalo," kata Rayyan.
Namun, Rayyan kerap menghadapi hambatan saat ia hendak mewujudkan niat baiknya itu.
Selang waktu berjalan, ketika semangat Rayyan mulai meredup, ia mendapat kabar bahwa RLG menghadirkan komunitas tersebut.
"Makanya saya sangat gembira, semangat dalam jiwa saya kembali menyala," tutur Rayyan.
Perjuangan Rayyan sebelum akhirnya menjadi PJ GBP tidak tanggung-tanggung.
Ke sana-kemari ia mencari peluang untuk bisa mewujudkan kehadiran GBP di Gorontalo.
"Saya bahkan sudah mengajak sejumlah teman yang juga hobi literasi, tapi mereka belum berkesempatan untuk ikut terlibat menjadi pengurus,"
"Dari proses itu saya sadar, ternyata membangun satu komunitas tidaklah mudah," ujarnya.
Memiliki kecintaan terhadap literasi seperti yang mewujud dalam diri Rayyan, tentu tidak terbentuk secara tiba-tiba.
Rayyan mengakui hal itu. Kata Rayyan, semangat membaca mulai tumbuh dalam dirinya saat ia duduk di bangku SMP.
"Ketika itu, saya merasa tidak mengetahui banyak hal, satu-satunya cara agar menjadi tahu adalah dengan membaca,"
"Saya kemudian memulai dengan membaca satu cerita fiksi berbahasa Inggris. Karena saat itu saya memang ingin mengembangkan keterampilan Bahasa Inggris," ungkap Rayyan.
Sejak saat itu, Rayyan terus tertarik membaca buku.
"Semasa SMP, saya bisa membaca sekitar 20 hingga 30 buku dalam sebulan," imbuhnya.
Semakin tekun ia membaca, semakin ia cinta dengan literasi.
Di saat yang sama, kecintaan ini juga menghadirkan keresahan dalam hati Rayyan.
Untuk itu, ia sangat semangat mencari cara agar indeks literasi masyarakat Kota Gorontalo dapat meningkat.
"Pada masa awal kuliah, setelah mendapat banyak wawasan baru, saya menjadi senang menulis riset tentang indeks literasi masyarakat Kota Gorontalo," kata Rayyan.
Dari riset kecil-kecilnya itu, ia menemukan indeks literasi masyarakat Gorontalo, khususnya wilayah Kota masih sangat rendah.
Mirisnya, fakta itu bahkan terjadi pada usia produktif.
Semangat inilah yang menjadi motif Rayyan untuk berkontribusi lebih jauh dalam pengembangan literasi di Gorontalo.
Rayyan sempat membagikan tips agar konsisten membaca.
"Untuk bisa konsisten membaca, memang tidak mudah. Terpenting, kita harus lebih dulu tahu alasan kenapa kita harus membaca," kata Rayyan.
Setelah mengetahui alasan pentingnya membaca, maka akan lahir motivasi yang kuat untuk mewujudkan kebiasaan membaca.
"Kita bisa mulai berlatih setiap hari, sesuai kemampuan, misalnya 1 halaman per hari, cobalah lakukan itu dengan rutin selama kurang lebih kurang 30 hari," pungkasnya. (*/Rafika)
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.