Jumat, 6 Maret 2026

Tribun Podcast

FULL Wawancara Eksklusif dengan Pj Bupati Gorontalo Utara Sila Nurainsyah Botutihe

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo itu menjabat Pj Bupati Gorontalo Utara sejak Rabu 6 Desember 2023.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto FULL Wawancara Eksklusif dengan Pj Bupati Gorontalo Utara Sila Nurainsyah Botutihe
TribunGorontalo.com
Pj Bupati Gorontalo Utara, Sila N Botutihe saat hadir di TribunPodcast, Rabu (12/6/2024). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Wawancara eksklusif TribunGorontalo.com dengan Penjabat (Pj) Bupati Gorontalo Utara Ir. Hj. Sila Nurainsyah Boututihe, dalam sesi podcast bertajuk ‘Cerita Sang Birokrat’, Rabu (15/6/2024).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo itu menjabat Pj Bupati Gorontalo Utara sejak Rabu 6 Desember 2023.

Pelantikan Sila Nurainsyah Botutihe sebagai Penjabat Bupati Gorontalo Utara ini menandai berakhirnya masa jabatan Bupati Thariq Modanggu.

Berikut wawancara eksklusif TribunGorontalo.com dengan Sila Nurainsyah Boututihe (SNB), dalam sesi podcast bertajuk ‘Cerita Sang Birokrat’, bersama Aldi Ponge (AP) Manajer Content TribunGorontalo.com.

TRIBUN : Ibu, Tribunners ingin tau, kesibukan serorang Pj Bupati itu seperti apa sih?. Kesibukan ibu akhir-akhir ini apa saja?.

SNB: Di samping ASN, saya juga sebagai ibu rumah tangga, sebagai istri dan juga sebagai seorang nenek.

Jadi saya jalani rutin seperti biasa, sebagai ibu yang memperhatikan suami anak termasuk juga cucu.

Dalam karier, itu juga menjadi prioritas dan perhatian saya.

TRIBUN : Selain ibu sabagai Pj Bupati Gorontalo Utara, ibu juga masih sebagai Kadis DKP, belum lagi ada kesibukan bersama keluarga, bagaimana cara ibu mengatur waktu ini?.

SNB: Semua harus balance (seimbang), tidak bisa miring ke karier atau keluarga, ini konsekuensi. Tentu semua harus mendapat perhatian. Menjalankan tugas saya jalankan dengan hati, dengan ikhlas sehingga kedua-duanya bias berjalan dengan baik.

TRIBUN : Sudah kurang lebih enam bulan sebagai Pj Bupati, adakah komplain dari keluarga, mungkin ibu terlalu sibuk? Atau ibu mengagendakan waktu khusus bersama keluarga di akhir pekan?.

SNB: Sepanjang yang saya jalani Alhamdullilah belum ada yang komplain, dan semoga saja tidak ada. Kalau saya jalani dengan baik, Everything ist okey, mereka justru mensupport saya.

TRIBUN : Saya cek datanya, ibu30 tahun sebagai ASN, diawali dengan status honorer, bisa ibu ceritakan awal mula perjalanan dan karier ibu?.

SNB: Seperti orang pada umumnya,  saya menjalani pendidikan bersama kedua orang tua, mulai dari TK-SMA sampai perguruan tinggi.

Setelah lulus SMA di Gorontalo, saya melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Sam Ratulangi (Unstrat) Manado Sulawesi Utara (Sulut).

Setelah lulus saya tidak pernah bercita-cita sebagai pegawai negeri, jauh sekali. Saya jusru bercita-cita sebagai wiraswasta atau pengusaha.

Saya meminta izin keluar daerah biar banyak pengalaman, tapi dibujuk orang tua, ayah sama ibu saya dua-duanya PNS. Ayah saya tugasnya di kabupaten, pernah juga di sulut.

Saya diarahkan ke Dinas Perikanan Sulut waktu itu. Kadisnya Alm. Pak Raharjo, kemudian saya menjadi honorer dan dibina oleh beliau.

Tidak lama saya menjadi honorer, saya langsung ikut tes. Ikut tes sebenarnya hanya mau mengikuti keinginan orang tua dan pimpinan, dan tidak taunya justru lulus.

Setelah ada nomor induk pegawai (NIP), saya kemudian menjadi staf, dulu masih ada posisi eselon V dan saya mulainya dari situ.

Selanjutnya di posisi eselon IV, saya dipercayakan sebagai pimpinan proyek pertama perempuan Pelabuhan Perikanan Bitung (Saat ini Pelabuhan Perikanan Samudera), sampai tahun 2006.

Setelah itu saya ke Gorontalo, awalnya dilantik sebagai Kabid Perencanaan DKP Provinsi Gorontalo, setelah itu jadi Kabag Keuangan, kemudian jadi kabid perikanan tangkap (bidang teknis).

Pernah juga saya tugas di Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorlu), waktu itu dipercayakan Gubernur Rusli Habibie di Boalemo. Waktu itu saya menjabat sebagai Kadis DKP Boalemo, dimasa pemerintahan Bupati Rum Pagau selama lima tahun lebih.

Kemudian balik ke Provinsi sebagai Staf Ahli, kemudian jadi Kadis Pangan, kemudian kembali ke perikanan hingga sekarang.

Akhir 2023 diperintahkan melalui Menteri dalam negeri (Mendagri) untuk mengisi posisi Bupati Gorontalo Utara dimasa transisi.

TRIBUN : Bagaimana persaannya ibu saat ditunjuk sebagai Pj? Karena persaingannya banyak, usulan dari pemrov dan deprov itu masing-masing tiga, dan ibu sendiri perempuan.

SNB: Saya tidak pernah berfikir kesana, karena saya tidak ada besik pemerintahan, saya ini hanya teknis. Saya kaget H-3 dipanggil Pj Gubernur Ismail Pakaya, untuk mempersiapkan diri. Sungguh hal yang sangat tidak dibayangkan.

Sebenarnya dulu sebelum ke Gorontalo, saya enggan pindah tugas selama bapak saya masih memerintah sebagai walikota.

Saya diminta untuk kembali pulang kampung dulu bangun daerah, karena ini sudah provinsi baru tapi waktu itu jujur saya berpikir begini, selama Papa masih Walikota saya belum mau pindah Kenapa saya tidak mau dibayang-bayangi. 

Akhirnya saya berpikir  berarti memang saya sudah harus pulang. dan di tahun 2006 itu sudah selang lima tahun saya dibujuk untuk kembali, akhirnya saya menyerah untuk datang kembali ke Gorontalo. 

TRIBUN : Kembali ke tadi, tugas-tugas ibu sebagai pejabat Bupati, apa saja yang masih dikerjakan oleh ibu sebagai pejabat Bupati, apalagi yang menjadi tantangan jadi pejabat Bupati apalagi Ibu ini seorang birokrat, bukan dari partai politik?. 

SNB: Sebelumnya saya ini sebagai Pj yang ditunjuk bukan dipilih rakyat, tapi sebetulnya tugas sama tadi saya bilang, bahwa saya menjadi pejabat saya ditunjuk harus mengisi pemerintahan ya transisi tugas saya utama itu kan mengantarkan daerah untuk melaksanakan Pilkada ini harus saya laksanakan dengan baik. 

Kemudian mengantarkan daerah pada pelaksanaaan pemilu, lalu menyiapkan Pilkada tentu saya dalam persiapan, disamping itu saya juga tetap melaksanakan tugas-tugas kepala daerahnya seperti melaksanakan urusan pemerintahan dan pembangunan, 

Ada kebijakan-kebijakan strategis yang akan dilakukan itu tetap harus seizin pemerintah pusat, dalam hal ini Mendagri. 

Pejabat itu tidak bisa merubah sewenang-wenang terhadap aturan yang sudah ditetapkan oleh Bupati sebelumnya, jadi memang ada pembatasan. 

Selebihnya Itu sama saya kira bahwa tetap eee memimpin pemerintahan semata-mata untuk kepentingan masyarakat. 

TRIBUN : Ibu ini adalah kepala daerah pejabat Bupati perempuan pertama di Gorontalo, saya sendiri melihat sangat sedikit perempuan yang bisa pertama di Gorontalo, di tengah-tengah birokrasi pria politisi bagaimana ibu? 

SNB: Setelah saya jalani perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya sebetulnya. Tidak ada kesulitan bagi kami perempuan menjalankan tugas. 

Tadi kan ditanyakan Bagaimana tantangan saya karena jabatan PJ, ini juga kan sebagai kepala daerah melekat sekali dengan hal-hal politik mau dan tidak mau seperti itu, karena saya juga termasuk Pembina partai politik daerah nah sepintas sekilas ya berarti juga pasti akan terjun di situ, tapi dalam hal ini bukan terjun langsung tetapi bagaimana kita memposisikan diri. 

Kita membangun harmonisasi, bagi saya gini, begitu saya dilantik, hal pertama yang saya lakukan adalah saya melakukan konsolidasi baik itu secara internal dengan semua aparat pemerintah yang ada di Gorut. 

Kemudian juga, di samping itu saya melakukan konsolidasi secara eksternal secara eksternal itu saya lakukan dengan cara menciptakan harmonisasi itu paling penting itu kuncinya harmonisasi baik dengan legislatif, unsur eksekutif dan legislatif. jadi kita tidak bisa tinggalkan itu itu seperti sisi mata uang antara saya dengan DPRD dalam hal ini, itu harus bermitra bersisian terus karena kita sama-sama memerintah daerah dan juga saya harus membangun harmonisasi dengan Forkopimda. 

TRIBUN : Ibu selama menjadi Pj Bupati, program apa-apa saja yang menjadi prioritas ibu? 

SNB: Karena amanah ini hanya setahun, ada tiga hal yang menjadi tugas saya yakni yang berhubungan dengan pembangunan, pemerintahan dan kemasyarakatan. 

Yang paling harus digaris bawah itu adalah Saya harus bisa mengatasi inflasi daerah inflasi daerah. 

Inflasi ini kan sangat seksi, karena ukuran kinerja kami terutama selaku PJ itu berhasil tidakkah saudara mengatasi inflasi. 

Alhamdulillah sampai saat ini teratasi, dan saya kemarin sudah dievaluasi yang kedua oleh Kemendagri.

Alhamdulillah pencapaian itu berkat dukungan dari semua lembaga, termasuk Sekda, Kepala OPD, Forkopimda maupun DPRD. 

Hal itu mampu dilakukan dengan terus mengendapkan komunikasi dengan bawahan, koordinasi dengan yang sejawat, dan konsultasi dengan atasan. 

TRIBUN : Ibu komoditi apa-apa saja yang potensial disana? Baik pertanian maupun kelautan. 

SNB: Baik perikanan maupun pertanian kuat. Pertanian seperti jagung, cabe, bawang, tomat itu justru komoditi yang menjadi parameter indikator inflasi. 

TRIBUN : Adakah dari komoditi unggulan yang sudah mulai di ekspor? 

JAWAB: Kalau potensi kelautan di Gorontalo Utara tidak usah diragukan lagi, kita menjadi daerah dengan garis pantai terpanjang dengan ratusan Pulau-pulau. 

Kita punya potensi ekspor Tuna dan cakalang serta jenis-jenis ikan lainnya. 

Jagung itu menteri pertanian sudah melakukan ekspor kemarin dari Gorut ke Filipina. 

TRIBUN : Ibu Gorut terkenal dengan daerah pariwisatanya, kira-kira upaya apa yang dilakukan untuk promosi wisata? 

SNB: Iyah benar, saat ini kita terus berupaya membangun komunikasi dengan sejumlah pihak. 

Harus diakui saat ini anggaran masih sedikit, tapi kemarin kita sudah koordinasi dengan Dinas Pariwisata Provinsi untuk melakukan aksi bersih-bersih di pantai. 

Selain itu, ada juga TNI yang akan terus melakukan patroli kelautan, guna memastikan kenyamanan kita. 

TRIBUN : Ibu kemarin Pemkab Gorut terima opini, WTP, apa makna penghargaan itu menurut ibu? 

SNB: Itu WTP yang ketujuh. WTP jangan hanya dimaknai sebagai penghargaan saja, tapi bahwa didalamnya itu ada warning. 

WTP menggambarkan pengelolaan keuangan daerah berjalan baik. Tapi bagi saya, semakin diberi penghargaan, akan menjadi pemicu untuk kita bekerja lagi. 

TRIBUN: Kembali ke ayahandanya ibu, beliau kan pernah jadi walikota, saya ingin tau apa keistimewaan profesi yang didapat oleh anak-anaknya? 

SNB: Sebetulnya previlage yang kami dapat hanyalah bangga, kedua beliau ini orangnya disiplin. 

Ada dua, disiplin dan jujur, kalau satu pincang akan sulit melangkah untuk kedepannya. 

Dari kami lima bersaudara, semua berjuang sendiri. Tapi bahwa kamu dimodali dengan pendidikan. 

Saya cerita sedikit waktu dapat tugas ke Boalemo, itu saya tidak mau, sudah membayangkan saja itu jauh sekali perjalanan ke sana.

Tapi oleh ayah sayang, beliau berpesan agar kesempatan itu harus digunakan sebagai amal. 

Dengan kehadiran kita disana, semoga dapat membantu banyak orang yang membutuhkan, itu pesan beliau. 

Akhirnya dengan modal itu, tidak terasa saya bertugas disana kurang lebih lima tahun. 

Termasuk menjadi Pj Bupati, semoga dapat menambah lagi amal, karena akan bermanfaat bagi banyak orang. 

TRIBUN : Menjelang pilkada ini, posisi ibu sangat strategis bagi para politisi-politisi, bagaimana cara ibu mengambil sikap?. 

SNB: Posisi saya sebagai ASN harus netral, karena saya kepala daerah yang ditunjuk, bukan dipilih. 

Saya bukan anti politik, tapi saya harus lebih bisa memposisikan diri. Apalagi saya sebagai pembina politik daerah. 

Saya netral, kalaupun saya terjun, saya harus terjun ke semua partai politik, tidak membeda-bedakan partai satu dengan yang lainnya. Karena memang posisi saya juga ini diatur oleh UUD ASN. 

TRIBUN : Saat ini apa sudah ada parpol yang mulai bisik-bisik sama ibu, diluar tugas pemerintahan menjelang pilkada kedepan? 

SNB: Ini pertanyaan sudah banyak kali saya terima. Memang posisi saya sangat dekat dengan politik, tapi sikap kita yang tentukan sendiri. 

Pertanyaan itu tidak hanya datang dari para politisi parpol, tetapi juga dari masyarakat. 

Dan saya sampaikan bahwa saya fokus ke tugas saya, karena posisi saya sebagai ASN. 

Jika saya ingin maju, maka harus mundur dari ASN, tapi saat ini saya sampaikan saya akan konsisten dengan tugas yang saya jalani. 

TRIBUN : Selama ibu menjabat, apakah sudah banyak kritikan yang ditujukan ke ibu, ditengah keterbukaan informasi di sosial media? 

SNB: Yang jelas pasti, ada baik masyarakat, LSM dan pemberitaan di media pasti ada, tapi itu saya jadikan sosial kontrol, jadi saya fikir kritik tidak jadi masalah. 

Kalau hal yang dikritisi bisa diselesaikan, maka segera akan kami tindaklanjuti itu. 

TRIBUN : Tidak terasa bincang-bincang kita sudah ada pengunjung, mungkin Tribunner diluar sana ingin meminta motivasi dari ibu, yang saat ini mereka masih berjuang. 

SNB: Jalani kehidupan ini dengan ikhlas dan jujur, sayangi pekerjaanmu, jika kamu menyayangi nya maka dia akan membahagiakan mu. (*) 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved