Human Interest Story
Kisah Yanto, Petani Jember Beralih Jualan Bakso Keliling di Gorontalo
Pria asal Jember, Jawa Timur ini baru 10 hari merantau ke Gorontalo untuk mencoba peruntungannya sebagai penjual bakso keliling.
Penulis: Prailla Libriana Karauwan | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Yanto-duduk-menunggu-pelanggan-bakso-Sabtu-1152024.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Kota Gorontalo -- Yanto (39) menjajakan baksonya dengan penuh semangat menjajakan jualannya di Kota Gorontalo, Sabtu siang tadi (11/5/2024).
Pria asal Jember, Jawa Timur ini baru 10 hari merantau ke Gorontalo untuk mencoba peruntungannya sebagai penjual bakso keliling.
Keputusan Yanto untuk merantau bukan tanpa alasan. Sebagai petani di Jember, penghasilannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Istrinya, seorang IRT, dan dua anaknya yang masih duduk di bangku SMP membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Jadi saya harus giat mencari rezeki buat mereka," kata Yanto kepada TribunGorontalo.com.
Baca juga: Kisah Supriadi Adam Jualan Takoyaki di Kota Gorontalo hingga Hijrah ke Jepang Jadi Perawat Lansia
Bersama tujuh orang temannya dari berbagai daerah di Jawa, Yanto merantau ke Gorontalo atas ajakan juragan bakso.
Mereka tinggal bersama di sebuah rumah di Kelurahan Biawau, Kota Gorontalo.
Setiap hari, Yanto dan teman-temannya bahu membahu membuat bakso.
Dari mulai mencincang daging, membuat pangsit, mie, hingga meracik bumbu.
Semuanya dikerjakan dengan penuh ketelatenan untuk menghasilkan bakso yang lezat dan digemari pelanggan.
Tak mudah bagi Yanto beradaptasi dengan kehidupan barunya di Gorontalo.
Ia harus berkeliling kota menjajakan baksonya, mencari pelanggan, dan menghadapi berbagai rintangan.
"Kadang panas, kadang hujan, tapi saya tetap semangat," ujarnya.
Namun, kegigihan Yanto tak sia-sia. Dalam waktu singkat, ia sudah berhasil menarik banyak pelanggan.
Baksonya yang gurih dan porsinya yang besar menjadi favorit para penikmat kuliner di Gorontalo.
Meskipun keuntungan yang didapatnya hanya 30 persen dari total penjualan, Yanto tetap bersyukur.
Baginya, yang terpenting adalah ada penghasilan yang bisa ia kirimkan untuk keluarganya di Jember.
"Kalau laku sejuta, berarti buat saya Rp 300 ribunya," kata Yanto. (*)