Kasus Malaria Gorontalo
Akademisi UNG Gorontalo: Jumlah Pendatang Bisa Jadi Sebab Tingginya Angka Kasus Malaria di Pohuwato
Peneliti Malaria, Dr Laksmyn Kadir M. Kes, berpendapat kalau tingginya angka tersebut bisa terjadi sebab lonjakan pendatang di Kabupaten Pohuwato.
Penulis: Fernandes Siallagan | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Akademisi-Gorontalo-menanggapi-kasus-malaria.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Angka kasus malaria di Kabupaten Pohuwato cukup tinggi.
Menurut data terbaru kasus malaria di Pohuwato berjumlah 640 kasus per akhir Februari 2024.
Mengenai kondisi ini, sejumlah akademisi Universitas Negeri Gorontalo turut memberikan tanggapannya.
Peneliti Malaria, Dr Laksmyn Kadir M. Kes, berpendapat kalau tingginya angka tersebut bisa terjadi sebab lonjakan pendatang di Kabupaten Pohuwato.
Dosen Kesehatan Masyarakat UNG ini mengatakan virus malaria bisa lebih mudah menginfeksi penduduk pendatang di wilayah endemik malaria.
Pohuwato sendiri merupakan wilayah endemik malaria di Provinsi Gorontalo. Terlebih malaria merupakan kasus re-emerging atau berulang yang berbahaya.
Karena itu, lonjakan kasus akibat pendatang menimbulkan kemudahan bagi nyamuk nyamuk (sarana malaria) menginfeksi manusia.
"Yang paling berisiko itu adalah faktor lingkungan," ucap Laksmyn kepada TribunGorontalo.com, Senin (4/2/2024).
Menurutnya pemerintah Kabupaten Pohuwato perlu untuk melakukan pencegahan dengan memberantas nyamuk yang menjadi sarana malaria.
"Bisa fogging, bersih-bersih lingkungan, dan menutup kubangan yang menjadi sarana jentik-jentik tumbuh," ungkapnya.
Jika sudah terkena malaria, perlu untuk mengkomsumsi makanan yang mengandung zinc dalam bentuk mineral.
Karena satu jenis malaria yang ada di Gorontalo adalah paling berbahaya. Di mana virus itu melemah sistem saraf.
Bahkan pengidapnya bisa menjadi gila atau sampai meninggal dunia.
Baca juga: Waspadai DBD dan Malaria di Gorontalo Saat Musim Penghujan, Ini 4 Tips Dinkes
Pendapat serupa dilontarkan, Abubakar Sidik Katili mengungkapkan lonjakan khasus malaria itu bisa terjadi karena alih fungsi lahan.
Dosen Biologi ini menambahkan, Kabupaten Pohuwato saat ini mengalami pembukaan lahan yang cukup tinggi untuk dijadikan lahan tambang.
Hal itu menimbulkan fragmantasi habitat (pecahnya lingkungan hutan) di mana nyamuk sejenis pengantar malaria muncul ke area pemukiman warga.
Hal itu juga berpotensi memunculkan spesies malaria baru akibat mutasi gen varian malaria yang baru.
"Nyamuk itu serangga tapi plamodium malaria itu yang ada di dalam darahnya nyamuk. Jadi nyamuk dan manusia itu vektornya (pembawa)," ungkap Diky.
Diky berpendapat jika hal tersebut sudah terjadi, virus malaria yang muncul bisa lebih parah.
Ia berharap agar setiap stake holder (pihak berkepentingan) dalam masalah malaria seperti kubangan bekas tambang bisa diselesaikan demi mengurangi virus malaria.
"Semua pihak harus turut bertanggung jawab. Karena pasca operasi penambangan wajib dilakukan reklamasi," pungkasnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.