PEMPROV GORONTALO
Gorontalo Punya Dua Sirene Tsunami, BPBD Jelaskan Fungsinya
Personel BPBD Provinsi Gorontalo, Sofyan Adjara, dua sirene itu dipasang di wilayah rawan tsunami maupun gempa.
Penulis: Husnul Puhi | Editor: Wawan Akuba
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Saat ini Provinsi Gorontalo memiliki dua sirene tsunami.
Sirene tersebut dipasang dengan menggunakan tiang yang cukup tinggi.
Di puncak tiangnya, terpasang dua towa besar yang mampu mengeluarkan bunyi yang cukup besar.
Personel BPBD Provinsi Gorontalo, Sofyan Adjara, dua sirene itu dipasang di wilayah rawan tsunami maupun gempa.
Baca juga: Porsi Nasi di Warung Makan Gorontalo Dikurangi Gara-gara Beras Mahal
Wilayah yang dimaksud adalah Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut).
Sirene Tsunami di Kota Gorontalo berlokasi di samping Gedung Bele Li Mbui, Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi.
Sementara, sirene di Kabupaten Gorut terletak Desa Moluo, Kecamatan Kwandang. Tepatnya di depan Masjid Jami Baiturrahim Gorut.
Menurut Sofyan, pemasangan dua sirene tsunami itu untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan keamanan masyarakat terhadap potensi ancaman tsunami, khususnya di daerah pesisir.
"Sirene tsunami ini menjadi alat yang sangat penting dalam memberikan peringatan dini kepada masyarakat, apabila terjadi ancaman tsunami," ujar Sofyan saat ditemui pada Selasa (27/2/2024).
Kata dia, masyarakat di daerah pesisir harus memahami arti dan tindakan yang harus diambil saat mendengar suara sirene ini.
Baca juga: Syaban Penuh Hajatan Pernikahan, MUA Gorontalo Banjir Orderan
Sirene tsunami akan diaktifkan dalam situasi-situasi tertentu, seperti terjadinya gempa bumi di laut atau kejadian laut dalam yang dapat menghasilkan gelombang tsunami.
Saat sirene berbunyi, masyarakat diharapkan segera mengambil tindakan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
Sofyan menjelaskan, bahwa jangkauan suara dari sirene tsunami itu sampai 5 kilo meter jauhnya. Artinya, warga Gorontalo bermukim di bagian pesisir laut dapat terjangkau.
"Cukup jauh jangkauannya, dan suaranya sangat keras," jelasnya singkat.
Baca juga: Diduga Bikin Onar di Desa, Mahasiswa KKN IAIN Gorontalo Ditarik ke Kampus
Setiap tanggal 26 di tiap bulan, sirene tsunami ini akan dibunyikan. Hal ini untuk memperingati kejadian gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam.
Namun, tiap kali dibunyikan pada tanggal 26, suaranya tak mencapai ambang batas seperti ditentukan. Hanya, mencapai radius 3 kilo meter.
"Kalau di tiap tanggal 26 itu suara sirenenya tidak sampai 5 kilo meter, hanya 3 kiloan. Kalau dibunyikan persis terjadi tsunami, masyarakat akan panik, karena suaranya sangat keras," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Sirene-Tsunami-milik-BPBD-Provinsi-Gorontalo.jpg)