Minggu, 15 Maret 2026

Human Interest Story

Cerita Nur Triska Lukum dan Yusrilsyah Limbanadi Belajar Bahasa Isyarat demi Tunarungu di Gorontalo

Nur Triska Lukum dan Yusrilsyah Limbanadi membagikan kisah mereka jadi penerjemah orang tuli di Gorontalo.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Andika Machmud | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Cerita Nur Triska Lukum dan Yusrilsyah Limbanadi Belajar Bahasa Isyarat demi Tunarungu di Gorontalo
TribunGorontalo.com/Ist
Nur Triska Lukum dan Yusrilsyah Limbanadi penerjemah tunarungu di Gorontalo 

Di tempat yang sama, Yusrilsyah Limbanadi mengungkapkan pengalaman dan harapannya sejak belajar bahasa isyarat.

Diketahui Yusril sebenarnya sudah belajar bahasa isyarat saat kelas empat Sekolah Dasar (SD).

Namun, saat itu ia belum mengerti lebih jauh bahasa isyarat.

"Saat itu ada teman saya yang tuli," ungkapnya.

Baca juga: Profil Maya Podungge, Sosok Tunarungu Jadi Guru Honorer di SLB Kota Gorontalo, Bermimpi Diangkat PNS

Sempat vakum lama, ia lanjut belajar bahasa isyarat formal di kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pria berusia 23 tahun ini tidak menemukan teman yang ingin belajar bahasa isyarat lagi.

"Jadi bisa dibilang mulai belajar lagi di tahun 2023 saat di Gorontalo," ungkapnya.

Menjadi mahasiswa akhir, Yusri mencoba mengambil kelas formal ketika belajar bahasa isyarat di Yayasan Tunarungu Indonesia.

"Setelah itu ada sertifikat sebagai pengakuan sudah bisa bahasa isyarat," ungkapnya.

Sertifikat yang dikeluarkan Pusat Bahsa Isyarat Indonesia (PUSBISINDO) itu dapat digunakan untuk pekerjaan mengenai bahasa isyarat.

Namun, ia menyayangkan di Gorontalo masih belum ada kelas khusus, sehingga masyarakat yang ingin belajar harus mengambil kelas daring.

Sama seperti Triska, Yusril pun kesulitan belajar bahasa isyarat.

"Misalnya di Bahasa Indonesia itu kan ada SPOK, di isyarat itu tidak ada," katanya.

Yusril menuturkan bahwa pengalaman berharganya saat membantu teman tuli berkegiatan di Manado. Saat itu ada acara futsal se-Sulawesi.

Namun saat itu, ia kaget karena terdapat perbedaan bahasa isyarat dari daerah lain.

"Ternyata bahasa isyarat itu berbeda setiap daerah," jelasnya.

Ia berharap stigma di masyarakat berubah supaya makin banyak orang belajar bahasa isyarat.

Pemerintah juga diminta membangun akses untuk penyandang tunarungu.

"Semoga inklusifitas di Gorontalo meningkat," ujar Yusril menutup pembicaraan.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved