Human Interest Story
Cerita Pendiri Happeople, Komunitas Edukasi Mental Health di Gorontalo
Mengenal komunitas Happeople melakukan edukasi masalah mental health di Provinsi Gorontalo.
Penulis: Andika Machmud | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Komunitas-Happeople-889999.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Mengenal komunitas Happeople melakukan edukasi masalah mental health di Provinsi Gorontalo.
Pendiri komunitas Arsa Danialsa mengungkapkan munculnya berbagai kasus dengan latar belakang mental health memotivasinya untuk membentuk komunitas ini.
Berkaca dari provinsi lain yang telah memiliki komunitas seperti ini. Di Gorontalo, ia yakin komunitas dengan fokus mental health seharusnya juga penting.
Pria 28 tahun itu melihat kasus mengenai mental health di Gorontalo masih dianggap sepele oleh masyarakat.
"Sangat sepele. Bahkan parahnya itu diviralkan," ungkapnya kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (10/02/2024).
Banyaknya pemberitaan mengenai kasus yang dilatarbelakangi mental health membuatnya merasa ingin mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga mental seseorang.
"Pemberitaan mengenai hal-hal yang menyangkut mental seseorang tidak bisa dijelaskan kronologinya ke publik," ungkapnya.
Kebetulan di Gorontalo, beberapa tahun lalu marak kasus tentang tindakan yang tidak baik.
Munculnya kasus itu membuatnya dapat pembelajaran untuk mencegah perbuatan yang tidak diinginkan.
Ia yakin untuk memulai sesuatu harus dari mindset dulu, kemudian tutur kata dan terakhir pada tindakan.
Pria yang memiliki spesifikasi di bidang Neuro Linguistic Programming (NLP) menjelaskan manusia akan melakukan sesuatu jika ada pemicu di otaknya.
"Jadi, kalau otak kita kotor dan tidak lurus, maka tentu tutur kata, dan tindakan juga mengikuti," jelasnya.
Di komunitasnya, ia menjadi mentor terhadap anggotanya yang memiliki masalah.
Lebih lanjut dalam komunitasnya, beberapa orang sudah di-mentoring.
Ia ingin mendekuasi masyarakat tentang cara mengatasi pikiran yang tidak baik.
Ia yakin jika pikiran yang tidak baik pun dapat menentukan tindakan yang tidak baik dan berdampak pada aktivitas.
Dia menuturkan, walaupun tidak membantu seutuhnya, tetapi minimal bisa meredakan keinginan tersirat seseorang yang ingin melakukan tindakan tidak baik.
Di komunitasnya, banyak anggota yang malu berbicara mengenai masalah mereka.
"Banyak yang introvert," katanya.
Hal ini diyakini jadi pemicu seseorang melakukan suatu tindakan. Beberapa orang susah untuk mengeluarkan pendapat atau menyampaikan perasaan.
Sehingga, ia harus mengedukasi anggota tentang pentingnya memiliki pikiran yang sehat dulu dan bisa menyampaikan perasaan.
"Pastikan untuk kembali ke niat awal. Jika masuk ke komunitas mental, maka pastikan untuk menyehatkan mental dulu," tutupnya.
| Kisah Haru Rosita Manumbi, 16 Tahun Mengabdi Kini Dipercaya Jadi Kepala SDN 13 Pulubala Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid |
|
|---|
| Sosok Loli Antuke, Marbot Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo |
|
|---|
| Kisah Annisa Tungkagi, Eks Nakes Gorontalo Rintis Kedai Kopi Jalanan |
|
|---|
| Kisah Ibrahim Pakaya, Kakek 71 Tahun Penjual Gulali di Taman Kalimadu Gorontalo |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.