Pemilu 2024
5 Teknik Politisi Sampaikan Janji-janji Manis, Wardoyo Dingkol: Hati-hati Terkecoh
Namun, dibalik kata-kata manis tersebut, terkadang tersembunyi manipulasi dan ketidakjujuran yang dapat menipu rakyat.
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Wardoyo-Dingkol-jebolan-S2-Universitas-Hasanuddin-Makassar.jpg)
3. Teknologi media sosial sebagai alat penyebaran pesan yang tidak akurat
Dalam era media sosial, politisi dapat memanfaatkan platform tersebut untuk menyebarkan pesan mereka secara langsung kepada masyarakat.
Namun, teori komunikasi menunjukkan bahwa media sosial juga dapat menjadi sumber disinformasi dan manipulasi.
Politisi sering menggunakan teknik clickbait dan headline yang provokatif untuk menarik perhatian masyarakat, bahkan jika pesan tersebut tidak sepenuhnya akurat.
Misalnya, seorang politisi mungkin mengunggah foto dirinya sedang bercengkerama dengan anak-anak miskin di media sosial.
"Foto tersebut kemudian dibagikan secara luas dengan caption yang menyatakan bahwa politisi tersebut peduli dengan kesejahteraan rakyat. Namun, bisa saja foto tersebut hanyalah hasil rekayasa," ucap Edo.
4. Janji-janji yang terlalu umum dan tidak jelas
Politisi cenderung menggunakan bahasa yang ambigu dan janji-janji yang terlalu umum agar dapat diartikan sesuai dengan keinginan masing-masing pemilih.
Teori komunikasi politik menunjukkan bahwa ketidakjelasan ini memungkinkan politisi untuk menghindari tanggung jawab yang konkret dan memberikan ruang bagi interpretasi yang beragam.
Meskipun janji manis diucapkan, dampak dan tindakan konkret seringkali tidak sesuai dengan harapan.
"Misalnya, seorang politisi mungkin berjanji untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana ia akan mewujudkan janji tersebut," jelas Edo.
5. Pemakaian statistik yang menyesatkan
Dalam menyajikan argumen, politisi sering menggunakan statistik untuk mendukung janji-janji.
Namun, teori komunikasi statistik menekankan bahwa pemilihan dan penyajian statistik dapat sangat mempengaruhi persepsi masyarakat.
Politisi yang tidak etis mungkin memilih statistik yang mendukung narasi mereka sementara mengabaikan informasi yang mungkin meragukan janji-janji mereka.