Minggu, 8 Maret 2026

Pemilu 2024

5 Teknik Politisi Sampaikan Janji-janji Manis, Wardoyo Dingkol: Hati-hati Terkecoh

Namun, dibalik kata-kata manis tersebut, terkadang tersembunyi manipulasi dan ketidakjujuran yang dapat menipu rakyat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto 5 Teknik Politisi Sampaikan Janji-janji Manis, Wardoyo Dingkol: Hati-hati Terkecoh
DOC pribadi
Wardoyo Dingkol, jebolan S2 Universitas Hasanuddin Makassar. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo - Dalam panggung politik, pesan yang diumumkan oleh politisi seringkali dihiasi dengan janji-janji manis yang terdengar begitu menggoda.

Namun, dibalik kata-kata manis tersebut, terkadang tersembunyi manipulasi dan ketidakjujuran yang dapat menipu rakyat.

Hal ini diungkapkan oleh Wardoyo Dingkol, seorang magister Ilmu Komunikasi, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Ia mengatakan bahwa pesan politik politisi seringkali menjadi alat untuk mengecoh masyarakat dengan janji yang sulit dipertanggungjawabkan.

Menurut Edo, ada 5 teknik yang digunakan politisi untuk menyampaikan janji-janji manis mereka, antara lain:

1. Pemanfaatan framing untuk menyajikan realitas yang terdistorsi

Menurut Wardoyo, melalui teori framing, politisi cenderung menyajikan pesan mereka dengan memilih kerangka atau sudut pandang tertentu untuk mempengaruhi persepsi masyarakat.

Dalam hal janji-janji manis, politisi seringkali menggunakan framing untuk menyajikan realitas yang terdistorsi.

Mereka mungkin menggambarkan kebijakan mereka sebagai solusi ajaib tanpa menyertakan konsekuensi atau kendala yang mungkin timbul.

"Misalnya, seorang politisi mungkin berjanji untuk menurunkan harga BBM secara drastis. Namun, ia tidak menjelaskan bahwa kebijakan tersebut akan berdampak pada kenaikan harga bahan pokok lainnya," ucap Wardoyo kepada TribunGorontalo.com, Kamis (21/12/2023). 

2. Manipulasi dengan penggunaan bahasa emosional

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini juga menyampaikan, bahwa teori komunikasi modern menekankan penggunaan bahasa emosional sebagai alat untuk mempengaruhi sikap dan perilaku audiens.

"Politisi sering kali menggunakan kata-kata berkesan dan penuh emosi untuk menyampaikan janji-janji mereka," ungkap pria yang kerap disapa Edo ini. 

Dengan memanipulasi perasaan masyarakat, mereka berharap dapat menciptakan koneksi emosional yang kuat, meskipun substansi dari janji tersebut tidak selalu jelas.

Misalnya, seorang politisi mungkin berjanji untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi kaum muda. Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana ia akan mewujudkan janji tersebut.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved