Sabtu, 14 Maret 2026

Berita Pohuwato

Marak Konflik Guru dan Orangtua Siswa di Pohuwato, Dinas Pendidikan Bantuk Satgas 

Dinas Pendidikan Pohuwato Gorontalo membentuk satuan tugas untuk menanggapi maraknya konflik antara guru dan orangtua. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Rahman Halid | Editor: Aldi Ponge
zoom-inlihat foto Marak Konflik Guru dan Orangtua Siswa di Pohuwato, Dinas Pendidikan Bantuk Satgas 
TRIBUNGORONTALO/RAHMAN HALID
Kasubag Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato, Iwan Kaparangi 

TRIBUNGORONTALO.COM  - Dinas Pendidikan Pohuwato Gorontalo membentuk satuan tugas untuk menanggapi maraknya konflik antara guru dan orangtua. 

Kepala Sub Bagian (Kasubag) Dinas Pendidikan Kabupaten Pohuwato, Iwan Kaparangi (38) mengatakan beberapa permasalahan antara guru dan orangtua siswa yang viral beberapa waktu lalu telah melalui jalur damai.

Di antaranya, guru gunting kemeja anak di SMP Negeri 3 Duhiadaa pada Rabu (8/11/2023), telah melalui kesepakatan baik antara orang tua murid dan guru.

Sementara itu, kasus pemukulan guru di SDN 3 Paguat, pelaku berujung pada jeruji besi.

"Ada 3 kasus pertikaian antara orangtua guru dan murid di antaranya di Kecamatan Wonggarasi, Duhiadaa dan Paguat. Dua kasus telah berakhir damai dan 1 kasus lepas dari pengawasan kami harus berakhir seperti itu (penjara)," jelasnya kepada tribungorontalo, Selasa (28/11/2023)

Untuk itu, dinas pendidikan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Tim Pencegahan Penindakan dan Kekerasan (TPPK) untuk mencegah terjadinya kasus-kasus yang sama terulang kembali.

"Kami sering sosialisasi di beberapa sekolah soal program untuk menangani kasus bullying (perundungan) atau kasus antara orangtua murid dan guru, melalui program TPPK. Hanya saja beberapa sekolah di Pohuwato belum 100 persen menerapkan," jelasnya.

Iwan berharap program tersebut menjadi solusi jelas bagi setiap sekolah yang ada di Pohuwato untuk mencegah kasus yang sama.

"Solusi yang terbaik menurut saya, hanya saja baru beberapa lingkungan sekolah yang menerapkan ini, salah satunya di SDN 13 Paguat," tutupnya.

"Harapan saya bisa dilibatkan semua unsur di TPPK  baik Guru dilingkungan sekolah, Komite Sekolah dan Orang Tua siswa, yang akan saling bekerja sama untuk menindaki hal-hal yang berkaitan dengan kasus bulyying (Perundungan) atau masalah guru dan murid," tambahnya.

Dukung TPPK di Sekolah
 
Iwan Kaparangi mengatakan 121 sekolah dasar hanya 103 yang membuat Tim TPPK di sekolahnya, sisanya belum terdaftar. Tingkat SMP, dari 45 Sekolah Negeri dan Swasta, hanya ada 5 sekolah yang mendaftarkan sekolahnya untuk Pembuatan Tim TPPK.

Dia menyayangkan baru 103 sekolah untuk sekolah dasar yang mendaftar ke TPPK Pohuwato dari 121 sekolah, dan 5 Sekolah tingkat SMP yang mendaftar dari 45 sekolah.

"Singgung disayangkan, terlebih konflik di lingkungan sekolah berbagai macam terjadi di Kabupaten Pohuwato, harapannya beberapa sekolah itu bisa segera mendaftar," tegasnya.

"Karena belum semuanya yang mendaftar dari tingkat SD dan SMP. Kami dari Dinas Pendidikan membuat PPK dulu, tujuannya untuk merangkul beberapa stokeholder di lingkungan OPD kabupaten Pohuwato  untuk sama-sama menangani kasus yang sama," tambahnya

Lanjut Iwan, dalam PPK terdapat beberapa dinas terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Perlindungan anak dan Perempuan serta beberapa lainnya.

"Nnti berikutnya kami akan turun di lingkungan sekolah mengatasnamakan tim PPK Pohuwato, tetapi berbeda dengan TPPK. PPK menaungi banyak sekolah sedangkan TPPK hanya satu sekolah saja," pungkasnya.

Orangtua Pukul Guru

Sebelumnya viral video anak perempuan anak menemani ibunya tidur di sel. Ternyata sang ibu ditahan karena memukuli guru. 

Kejadian bermula ketika anak terduga pelaku berinisial SM (12) saling ledek dengan 2 teman sekelasnya. 

Bermula dari candaan lalu menjadi saling ledek. SM disebut oleh 2 teman kelasnya sebagai pelakor, akronim perebut laki orang. 

Karena tersinggung, SM pun mengadukan 2 temannya itu ke orangtuanya, Sri Mariyahi. Inilah yang memicu Sri Mariyahi ini mengamuk di sekolah. 

Sekira pukul 10.00 Wita itu, Sri Mariyahi datang ke kelas anaknya sambil marah-marah. 

Tidak terima putrinya dibilang pelakor, Sri mendatangi sekolah dan langsung memukul meja sekaligus membanting 4 meja sekaligus.

Merasa ada keributan, Nidya Mbuinga alias Rena sebagai guru pengajar di SDN itu, mendatangi kelas tersebut. 

Rena meminta Sri berhenti. Ia juga meminta penjelasan atas keributan yang dibuat Sri di ruang kelas. 

Tak terima ditegur, Sri pun langsung melampiaskan amarahnya kepada Rena yang saat itu berdiri di tengah kelas. 

Saling adu mulut membuat Sri naik pitan dan langsung menjambak rambut Rena hingga terjatuh dan tersungkur di lantai. 

Tak puas akan hal itu, Sri menyeret Rena sejauh 1 meter dan menempelkan kepalanya di atas meja untuk dibenturkan.

Beruntung sebelum dihantamkan ke meja, Rena berhasil menangkis menggunakan tangganya sehingga hamparan meja tidak langsung mengenai wajahnya.

Tidak hanya menjambak dan membanting, Rena juga digigit oleh Sri. 

Pelaku kini mendekam di sel tahanan Polsek Paguat, Kecamatan Paguat, Pohuwato, Gorontalo.

Kapolsek Paguat, IPTU Barthel Tamboto, menyampaikan saat ini kasus sudah masuk ke tahapan penyerahan berkas perkara ke kejaksaan.

"Sejak Senin kemarin dulu, kasus ini sudah ke tahap 1 dan telah dilimpahkan ke kejaksaan, saat ini si korban sudah di berikan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) oleh kami," jelasnya.

Belakangan Nidya Mbuinga, guru sekaligu korban mengaku terharu melihat video pelaku dan anaknya. 

Dia sebetulnya tak tega melihat anak perempuan yang tak lain siswi di sekolah itu harus terkena imbas perilaku ibunya.

"Saya sudah lihat videonya dan saya bersyukur telah viral supaya banyak orang yang akan membantunya," ungkap Nidya kepada TribunGorontalo.com, Rabu (22/11/2023).

Guru kelas itu hanya ingin memberikan pelajaran kepada orang tua murid supaya tidak ada lagi tindak semena-mena.

Pasalnya, pelaku kerap datang ke sekolah dan menantang guru-guru untuk berduel dengannya.

"Saya telah memaafkannya, tetapi maksud saya harus ada efek jera," jelasnya.

Wanita akrab disapa Rena itu berniat mencabut laporannya di kepolisian. Tetapi Rena masih trauma.

 Guru Gunting Baju Siswa di SMP Duhiadaa Gorontalo Berakhir Damai

Selain itu, adapula kasus pertikaian antara guru dan siswa di SMP Negeri 3 Duhiadaa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, yang terjadi pada Rabu (8/11/2023) lalu, akhirnya berakhir damai.

Penyebabnya sepele, karena tindakan seorang guru matematika, inisial NI, yang menggunting baju (seragam) sekolah milik AP dan RK.

Merasa tak terima, AP dan RK mengadukan masalah ini langsung kepada orang tua mereka, sehingga membuat orang tua mereka datang menemui NI dan langsung mempertanyakan kejadian yang menimpa anaknya.

Husain Maruf, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Duhiadaa, membenarkan kasus yang terjadi di lingkungan sekolahnya.

Ia mengatakan, semua pihak telah didamaikan secara kekeluargaan.

"Benar pak, tetapi semua sudah clear (selesa) tidak ada lagi masalah apa-apa antara orang tua RK dan AP karena telah didamaikan secara kekeluargaan," tandasnya.

Bahkan, ungkap Husain, karena rasa bertanggung jawab terhadap masalah yang menimpa NI, dirinya telah mengganti baju seragam sekolah milik RK dan AP.

"Seragam sekolah yang digunting telah di ganti dan alhamdulilah telah diterima langsung oleh kedua orang tua mereka," ujarnya.

Senada dengan itu, Husain juga menegaskan ke depan dirinya menjamin tidak akan terjadi lagi hal-hal yang merugikan siswa maupun guru di lingkungan sekolahnya.

"Saya menjamin hal-hal merugikan sekolah, guru dan murid tidak akan terjadi lagi di sekolah ini, apalagi Pohuwato saat ini lagi heboh-hebohnya kasus antara guru dan murid," tegasnya. (Rahman)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved